Selama 24 jam penuh, para pejabat tinggi termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles terhubung ke Ruang Situasi untuk memantau perkembangan terkini.
Trump tidak dilibatkan langsung dalam rapat tersebut, namun tetap menerima pembaruan pada momen-momen penting yang dianggap krusial.
Baca Juga:
Trump Murka, Sebut yang Bilang AS Tak Menang Lawan Iran sebagai Pengkhianat
“Para ajudan menjaga presiden agar tidak masuk ke ruangan saat mereka mendapatkan informasi terkini setiap menit karena mereka percaya ketidaksabarannya tidak akan membantu,” ujar pejabat tersebut.
Dalam pernyataan resmi, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa Trump tetap menunjukkan kepemimpinan yang kuat di tengah tekanan.
“Presiden Trump dengan bangga berkampanye dengan janjinya untuk mencegah rezim Iran mengembangkan senjata nuklir, dan itulah yang dicapai oleh operasi mulia ini,” tuturnya.
Baca Juga:
Trump Tak Puas Proposal Damai Iran, Sebut AS Punya Dua Opsi Akhiri Perang
Setelah kru pertama ditemukan pada Kamis (3/4/2026) -- Amerika Serikat langsung berpacu dengan waktu untuk menemukan pilot kedua sebelum jatuh ke tangan Iran.
Lebih dari 24 jam kemudian, barulah Trump diberi kabar bahwa penerbang kedua telah berhasil diselamatkan.
Keberhasilan misi ini tidak lepas dari peran intelijen, di mana CIA memberikan informasi krusial mengenai lokasi pilot yang terjebak di wilayah pegunungan Iran.