WAHANANEWS.CO, Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat terperosok ke titik terendah sejak awal 2022 setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan dirinya nyaman dengan posisi dolar yang melemah.
Komentar itu disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan di Iowa pada Selasa (27/1/2025) terkait kekhawatirannya atas penurunan nilai mata uang AS.
Baca Juga:
Prediksi Rupiah Menguat Jelang Pertemuan Trump dan Xi Jinping
“Tidak, saya pikir itu bagus,” kata Trump.
Trump menilai kondisi dolar yang lebih lemah justru menguntungkan dunia usaha dan mencerminkan kinerja ekonomi yang menurutnya masih solid.
Pernyataan tersebut memperkuat sentimen negatif terhadap dolar yang sebelumnya sudah tertekan akibat kebijakan tarif yang mengguncang pasar global pada tahun lalu.
Baca Juga:
Polisi Ringkus Dukun Pengganda Uang di Kalibata, Dolar Palsu Dibuang ke Kloset
Kekhawatiran investor asing kian meningkat seiring perubahan kebijakan AS yang dinilai tidak menentu dan berpotensi mendorong arus keluar modal dari Amerika Serikat.
Setelah komentar Trump, indeks Spot Dolar Bloomberg sempat anjlok hingga 1,2% sebelum sedikit stabil dalam perdagangan Asia pada Rabu (28/1/2025).
Trump selama ini kerap menuduh negara lain sengaja melemahkan mata uangnya demi mendongkrak ekspor, sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyinggung perbedaan antara kekuatan dolar dan statusnya sebagai mata uang cadangan global.
Kondisi tersebut membuat pasar memandang sinyal terbaru Trump sebagai lampu hijau bagi investor untuk kembali melepas kepemilikan dolar AS.
“Banyak anggota kabinet Trump menginginkan dolar yang lebih lemah agar ekspor menjadi lebih kompetitif,” kata Kepala Ekonom Bank of Nassau, Win Thin.
Sebagian pelemahan dolar juga dipicu oleh penguatan yen Jepang secara tiba-tiba sejak pekan lalu di tengah spekulasi potensi intervensi pemerintah Jepang untuk menopang mata uangnya.
Namun tekanan utama terhadap dolar berasal dari kebijakan Trump yang sulit diprediksi, mulai dari ancamannya mengambil alih Greenland, tekanan terhadap Federal Reserve, pemotongan pajak yang memperlebar defisit, hingga gaya kepemimpinan yang memperdalam polarisasi politik AS.
Pelemahan dolar ini terjadi meski imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat dan ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menahan pemangkasan suku bunga pada pertemuan Rabu (28/1/2025), kondisi yang biasanya mendukung penguatan mata uang.
Trump sendiri terus menyuarakan keinginannya agar suku bunga ditekan lebih rendah, sebuah langkah yang berpotensi menambah tekanan terhadap dolar.
Situasi ini mendorong investor beralih ke aset lindung nilai seperti emas yang mencetak rekor tertinggi.
Arus dana juga mengalir deras ke aset pasar negara berkembang dengan kecepatan tertinggi dalam sejarah, seiring meningkatnya kecenderungan rotasi keluar dari aset berbasis Amerika Serikat yang oleh sebagian pelaku pasar disebut sebagai “penghentian diam-diam.”
Trump sejak lama memiliki pandangan yang kontradiktif soal dolar, memuji kekuatannya dalam negosiasi bilateral sekaligus menyoroti manfaat dolar lemah bagi sektor manufaktur.
“Saya adalah orang yang menyukai dolar yang kuat, tetapi dolar yang lemah membuat Anda menghasilkan lebih banyak uang,” katanya tahun lalu.
Sejak pelantikan Trump, indeks Bloomberg untuk dolar AS telah merosot hampir 10% dan pasar semakin bertaruh pada pelemahan lanjutan mata uang tersebut.
Ekspektasi bullish terhadap mata uang lain kini mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan dan mendekati posisi yang terlihat setelah penerapan tarif pada April lalu.
Aktivitas perdagangan juga melonjak tajam, dengan perputaran melalui Depository Trust & Clearing Corporation pada Senin (26/1/2025) mencatat rekor tertinggi kedua sepanjang sejarah.
Pada Selasa (27/1/2025), Trump kembali memicu kontroversi dengan mengisyaratkan kemampuannya memengaruhi arah dolar secara langsung.
“Saya bisa membuatnya naik atau turun seperti yo-yo,” kata Trump.
Meski demikian, ia menyebut manipulasi tersebut sebagai hasil yang tidak menguntungkan dan menyamakan praktik itu dengan penciptaan lapangan kerja semu.
Trump juga melontarkan kritik tajam terhadap negara-negara Asia yang menurutnya sengaja mendevaluasi mata uang mereka.
“Jika Anda melihat Cina dan Jepang, saya dulu sering bertengkar hebat dengan mereka, karena mereka selalu ingin mendevaluasi mata uang mereka, yen dan yuan, dan mereka terus mendevaluasi,” ujar Trump.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]