WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras kepada Iran terkait dugaan pemasangan ranjau di Selat Hormuz.
Peringatan tersebut muncul setelah Teheran sebelumnya menyatakan bahwa tidak akan ada minyak dari kawasan Teluk yang diizinkan melewati Selat Hormuz jika konflik terus meningkat.
Baca Juga:
Trump Sesumbar Sudah Menang, Tapi Bingung Menentukan Akhir Perang Iran
Disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Selasa (10/3/2026), ia memperingatkan Iran agar segera menyingkirkan ranjau apabila benar-benar telah dipasang di jalur pelayaran strategis tersebut.
"Jika karena alasan apa pun ranjau telah ditempatkan, dan tidak segera disingkirkan, konsekuensi militer bagi Iran akan berada pada level yang belum pernah terlihat sebelumnya," tulis Trump.
Ia menegaskan bahwa langkah Iran untuk membersihkan ranjau tersebut dapat menjadi sinyal positif dalam upaya meredakan ketegangan yang terus meningkat.
Baca Juga:
Ditresnarkoba Polda Jambi Bagikan Takjil kepada Masyarakat, Wujud Kepedulian di Bulan Ramadan
"Jika, di sisi lain, mereka menyingkirkan apa yang mungkin telah ditempatkan, itu akan menjadi langkah raksasa ke arah yang benar," lanjutnya.
Trump juga menyampaikan ancaman bahwa Amerika Serikat siap menggunakan persenjataan militer untuk menghancurkan kapal-kapal yang diduga memasang ranjau di jalur pelayaran internasional tersebut.
"Mereka akan ditangani dengan cepat dan keras. waspadalah," tegas Trump.
Pernyataan keras tersebut muncul setelah laporan media Amerika Serikat menyebutkan adanya informasi intelijen yang menunjukkan Iran diduga mulai memasang ranjau di Selat Hormuz.
Laporan tersebut mengutip sumber anonim yang menyebut aktivitas tersebut terdeteksi dalam perkembangan terbaru konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena hampir seperlima pasokan minyak global melintas melalui wilayah tersebut.
Dalam situasi terkini, laporan menyebutkan lalu lintas kapal di jalur tersebut hampir berhenti total akibat meningkatnya risiko keamanan.
Di sisi lain, Gedung Putih memberikan klarifikasi mengenai situasi operasional Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada pengawalan militer terhadap kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz.
Klarifikasi tersebut muncul setelah akun media sosial Menteri Energi Amerika Serikat sempat mengunggah klaim bahwa pengawalan telah dilakukan terhadap tanker minyak.
Unggahan tersebut kemudian dihapus sehingga memicu berbagai spekulasi mengenai situasi sebenarnya di lapangan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]