"Jangan ada yang terjebak dalam provokasi musuh," tegas Cabello melalui rekaman audio yang dirilis partai berkuasa PSUV.
Operasi penangkapan Maduro, yang menampilkan gambar pria berusia 63 tahun tersebut dalam kondisi mata tertutup dan tangan terborgol, telah mengejutkan rakyat Venezuela. Ini merupakan intervensi AS yang paling kontroversial di Amerika Latin sejak invasi Panama 37 tahun silam.
Baca Juga:
Trump Tegaskan Bisa Serang Venezuela Tanpa Izin Kongres Meski Menuai Kritik
Menteri Pertahanan Venezuela, Jenderal Vladimir Padrino, melaporkan bahwa serangan AS telah menewaskan tentara, warga sipil, dan sebagian besar tim keamanan Maduro secara keji. Sementara itu, pemerintah Kuba melaporkan 32 warganya tewas dalam penggerebekan tersebut.
Wakil Presiden Delcy Rodriguez kini mengambil alih kepemimpinan sementara dengan restu mahkamah agung setempat. Meski dikenal sebagai sosok pragmatis, Rodriguez secara terbuka membantah klaim Trump bahwa dirinya bersedia bekerja sama dengan AS.
Di sisi lain, Trump secara terang-terangan mengungkapkan motif di balik operasi ini. Selain alasan hukum terkait narco-terrorism, ia menekankan pentingnya perusahaan minyak AS memiliki "akses total" ke cadangan minyak raksasa Venezuela. Ia juga menuding Maduro sengaja mengirim narapidana dan pasien gangguan jiwa ke AS sebagai imigran.
Baca Juga:
1 Orang Tentaranya Dibunuh, Israel Bombardir Gaza 104 Orang Tewas
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.