Ketua parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa kesiapan militer tetap menjadi prioritas, meskipun jalur diplomasi berjalan.
"Bukan berarti kami berpikir hanya karena kami sedang bernegosiasi, angkatan bersenjata tidak siap," katanya dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah. "Sebaliknya, seperti halnya rakyat berada di jalanan, angkatan bersenjata kami juga siap."
Baca Juga:
AS dan Iran Dijadwalkan Kembali Berunding di Islamabad Pekan Depan
Ghalibaf juga memperingatkan bahwa Iran dapat kembali membatasi lalu lintas di Selat Hormuz jika Amerika Serikat tidak menghentikan blokade lautnya.
"Mustahil pihak lain bisa melewati Selat Hormuz sementara kami tidak. Jika Amerika Serikat tidak menghentikan blokade, lalu lintas di Selat Hormuz pasti akan dibatasi," ujarnya.
Selain soal jalur pelayaran, isu program nuklir tetap menjadi sumber ketegangan utama. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menolak keras tuntutan AS terkait hak nuklir negaranya.
Baca Juga:
Selat Hormuz Dibuka Lagi, Dunia Langsung Bereaksi
“Trump mengatakan Iran tidak boleh menggunakan hak nuklirnya, tetapi tidak mengatakan untuk kejahatan apa. Siapa dia sehingga bisa mencabut hak sebuah bangsa?" ujarnya.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, juga menegaskan bahwa Teheran tidak akan menyerahkan uranium yang telah diperkaya kepada Amerika Serikat, membantah klaim Trump sebelumnya.
"Saya bisa mengatakan kepada Anda bahwa tidak ada material yang diperkaya yang akan dikirim ke Amerika Serikat," katanya. "Ini adalah hal yang tidak bisa dimulai dan saya dapat memastikan bahwa meskipun kami siap menjawab setiap kekhawatiran yang ada, kami tidak akan menerima hal-hal yang sejak awal tidak dapat diterima."