WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tidur bukan sekadar waktu istirahat bagi tubuh, melainkan fase krusial bagi otak untuk melakukan “perawatan diri”.
Saat tidur, otak membersihkan racun, memperkuat ingatan, serta mengatur emosi dan konsentrasi.
Baca Juga:
Menguak Mitos Kolesterol Udang dan Segudang Manfaatnya untuk Kesehatan
Berbagai studi ilmiah menunjukkan bahwa kualitas tidur sama pentingnya dengan durasi tidur itu sendiri.
Berikut lima cara tidur yang terbukti menyehatkan otak menurut sains.
1. Tidur dan Bangun di Jam yang Sama Setiap Hari
Baca Juga:
Dibalik Kepergian Ozzy Osbourne, Ini Fakta tentang Penyakit Parkinson
Penelitian neurosains menunjukkan bahwa otak sangat bergantung pada ritme sirkadian atau jam biologis internal. Tidur dan bangun di jam yang konsisten membantu otak mengatur pelepasan hormon penting seperti melatonin dan kortisol.
Pola tidur yang teratur terbukti meningkatkan fungsi memori, fokus, serta menurunkan risiko gangguan kognitif jangka panjang, termasuk demensia.
2. Tidur Cukup, Idealnya 7–9 Jam
Studi dari berbagai lembaga kesehatan menyimpulkan bahwa orang dewasa membutuhkan tidur antara tujuh hingga sembilan jam per malam. Kurang tidur membuat otak gagal membersihkan beta-amyloid, protein yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.
Sebaliknya, tidur cukup membantu proses konsolidasi memori, yakni pemindahan informasi penting dari ingatan jangka pendek ke jangka panjang.
3. Tidur dalam Kondisi Gelap dan Sunyi
Paparan cahaya, terutama cahaya biru dari gawai, menghambat produksi melatonin yang berperan penting dalam kualitas tidur.
Riset menunjukkan bahwa tidur di ruangan gelap dan minim suara membantu otak mencapai fase tidur dalam (deep sleep) lebih optimal. Fase ini sangat penting untuk regenerasi sel otak dan pemulihan fungsi mental.
4. Posisi Tidur Menyamping Lebih Baik untuk Otak
Sejumlah penelitian menemukan bahwa tidur menyamping membantu sistem glimfatik otak bekerja lebih efisien. Sistem ini berfungsi membuang limbah metabolik dari otak, termasuk zat beracun yang berpotensi merusak sel saraf.
Tidur menyamping, terutama ke kiri, dinilai lebih efektif dibanding tidur telentang atau tengkurap dalam mendukung proses pembersihan otak.
5. Hindari Kafein dan Aktivitas Mental Berat Sebelum Tidur
Kafein dapat bertahan di dalam tubuh hingga enam jam dan mengganggu kemampuan otak untuk memasuki fase tidur nyenyak.
Selain itu, aktivitas mental berat seperti bekerja lembur atau scrolling media sosial sebelum tidur membuat otak tetap berada dalam kondisi waspada.
Studi menunjukkan bahwa rutinitas relaksasi sebelum tidur, seperti membaca buku ringan atau meditasi singkat, membantu otak bertransisi ke mode istirahat secara alami.
Tidur yang sehat bukan hanya soal merasa segar keesokan hari, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kesehatan otak.
Dengan menerapkan kebiasaan tidur yang didukung oleh sains, risiko gangguan kognitif dapat ditekan, sekaligus menjaga daya ingat, emosi, dan kemampuan berpikir tetap optimal hingga usia lanjut.
[Redaktur: Sandy]