WAHANANEWS.CO, Jakarta – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terus berupaya meningkatkan tingkat keaktifan peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Hingga saat ini, cakupan kepesertaan JKN telah mencapai 98,60 persen dari total penduduk Indonesia. Namun, tingkat peserta yang masih aktif baru berada di angka 80,25 persen.
Baca Juga:
Arnod Sihite Aklamasi Pimpin FSP PPMI SPSI, Ini 10 Poin Perjuangan Kesejahteraan Buruh
Untuk mendorong peningkatan keaktifan peserta sekaligus mengurangi tunggakan iuran, BPJS Kesehatan meluncurkan program Menabung Demi Iuran (NADI) JKN.
Program ini dirancang sebagai solusi bagi peserta segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri yang memiliki penghasilan tidak tetap, sehingga dapat menyisihkan dana sedikit demi sedikit sebelum jatuh tempo pembayaran iuran.
Direktur Utama BPJS Kesehatan,Prihati Pujowaskito mengatakan program tersebut menjadi salah satu strategi dalam mengaktifkan kembali kepesertaan JKN, khususnya bagi masyarakat yang selama ini terkendala membayar iuran secara sekaligus.
Baca Juga:
BPJS Kesehatan Luncurkan NADI JKN, Solusi Menabung Iuran agar Kepesertaan Tetap Aktif
Menurutnya, kebutuhan pembiayaan pelayanan kesehatan yang ditanggung BPJS Kesehatan setiap hari sangat besar.
Di sisi lain, penerimaan iuran masih belum sepenuhnya mampu menutup seluruh kebutuhan pembiayaan layanan kesehatan.
"BPJS Kesehatan ini sehari melaksanakan pelayanan pada 2 juta pelayanan. Itu Rp500 miliar sehari, sebulan Rp16 triliun, yang kita kumpulkan Rp14 triliun," kata Prihati Pujowaskito, Selasa, 4 Agustus 2026.
Pujo menambahkan, pemerintah pusat juga berencana memberikan dukungan pendanaan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Bantuan tersebut saat ini tinggal menunggu penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) sebelum dapat direalisasikan.
"Kita bersyukur dan akan segera direalisasikan bantuan dari Bapak Presiden berupa suntikan dari APBN yang saat ini regulasinya sudah diberikan tanda tangan dan akan menunggu Permenkeu dan kemudian semoga bulan-bulan depan 20 triliun akan segera hadir di sekeliling kita, di kas BPJS. Mohon doanya Bapak, Ibu sekalian," kata Pujo.
Sementara itu, Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Lula Kamal menilai konsep menabung harian menjadi alternatif yang lebih ringan bagi masyarakat, khususnya peserta yang memiliki penghasilan harian.
Dengan menyisihkan uang dalam nominal kecil secara rutin, peserta diharapkan dapat menjaga status kepesertaan tetap aktif tanpa terbebani pembayaran sekaligus.
"Tapi kalau mau nabung tiap hari boleh? Boleh. Kalau nabung tiap hari kalau dihitung cuma 20 hari saja, itu Rp7.000 per hari," ujar Lula Kamal.
Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan Akmal menjelaskan, pelaksanaan program NADI JKN dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak ketiga atau aplikator.
Mekanisme pembayaran dirancang secara digital menggunakan sistem berlangganan (subscribe) maupun pemotongan saldo otomatis sehingga proses menabung menjadi lebih mudah dan praktis bagi peserta.
"Jadi ini bekerja sama dengan aplikator atau pihak ketiga. Dan pihak ketiga nanti metodenya subscribe atau mungkin nanti pemotongannya melalui (digital-red)," kata Akmal.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari PT Pos Indonesia.
Vice President Payment PT Pos Indonesia Tri Aulia menyatakan pihaknya siap mendukung pengumpulan tabungan iuran melalui aplikasi yang telah disiapkan sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam melakukan pembayaran.
"Kami sangat mendukung penuh kerja sama yang dilakukan antara BPJS Kesehatan ini dengan teman-teman yang ada di komunitas, baik itu pengemudi online ataupun yang lain," ucap Tri Aulia.
Selain PT Pos Indonesia, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk turut mendukung implementasi program tersebut melalui partisipasi para mitra pengemudi.
Chief of Public Affair PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk Dyan Shinto Eko Nugroho mengungkapkan ribuan mitra Gojek telah menjadi peserta aktif BPJS Kesehatan sehingga memperoleh perlindungan kesehatan bagi diri sendiri maupun keluarganya.
"Mobilitas para mitra sangat tinggi karena mereka bekerja bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga. Saat ini, kami laporkan sebanyak 3.147 mitra Gojek di luar desil 1-5 telah bergabung dengan BPJS Kesehatan, sehingga mereka dan seluruh anggota keluarganya mendapatkan perlindungan dari risiko biaya kesehatan yang tidak terduga," kata Dyan.
Sebagai tahap awal implementasi, program NADI JKN masih diuji coba melalui skema konvensional di lima kantor cabang BPJS Kesehatan, termasuk di Boyolali dan Banyuwangi.
Ke depan, BPJS Kesehatan juga menggandeng badan usaha milik desa (BUMDes) dan berbagai komunitas lokal agar program ini dapat menjangkau masyarakat hingga ke wilayah pelosok serta meningkatkan kepatuhan pembayaran iuran secara berkelanjutan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]