Pada fase tersebut, kecukupan gizi akan sangat memengaruhi perkembangan fisik, kemampuan kognitif, hingga kualitas kesehatan anak di masa mendatang.
“Balita berada pada masa emas pertumbuhan yang menentukan perkembangan fisik dan kognitif anak hingga masa depan. Selain itu, penderita tuberkulosis juga perlu menjadi perhatian dalam Program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.
Baca Juga:
Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar Jadi Sorotan, Wamenkes Jelaskan Perbedaannya dengan Varian di Indonesia
Lebih lanjut, Budi mengatakan usulan perluasan sasaran penerima manfaat MBG mendapatkan tanggapan positif dari Badan Gizi Nasional.
Menurutnya, skema penerima program masih memungkinkan untuk disesuaikan agar dapat menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan gizi lebih tinggi.
“Beliau menyukainya. Nanti mungkin akan ubah Perpres sedikit, karena sekarang kan diberikan ke anak-anak sekolah, dan bukan berarti saya menolak yang untuk di sekolah ya,” ucapnya.
Baca Juga:
Usai WHO Tetapkan Ebola Darurat Global, Kemenkes Perketat Pintu Masuk RI
Saat ini pemerintah bersama Badan Gizi Nasional dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah masih terus membahas penguatan sasaran Program Makan Bergizi Gratis.
Evaluasi terhadap pelaksanaan program juga akan dilakukan melalui data pemeriksaan kesehatan dan status gizi penerima manfaat, sehingga kebijakan yang diterapkan benar-benar didasarkan pada bukti ilmiah atau evidence-based policy.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap program MBG dapat memberikan dampak yang lebih efektif dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.