Kondisi ini akan menjadi lebih buruk pada anak yang terpapar penyakit campak dengan kondisi kurang gizi. Tak hanya diare berat, komplikasi lain yang bisa terjadi termasuk peradangan pada otak, paru, pneumonia, hingga infeksi yang menyerang selaput mata dan berujung pada kebutaan.
Campak sangat menular
Baca Juga:
Jaksa Agung: Pengoplosan Pertamax di Masa Pandemi Bisa Berujung Hukuman Mati
Selain itu, campak juga menjadi gangguan kesehatan dengan tingkat penularan yang sangat tinggi. Seperti halnya COCID-19, penyakit campak terjadi karena infeksi virus yang berasal dari famili Paramyxovirus.
Virus ini dapat dengan mudah menular dari percikan ludah ketika batuk, bicara, bersin, droplet, atau lewat cairan hidung.
Virus mampu bertahan hingga dua jam pada udara terbuka
Baca Juga:
Kejagung Didesak Tetapkan Mantan Bupati Samosir Tersangka Dugaan Korupsi Dana Covid
Tingginya tingkat penularan virus ini membuat anak-anak yang berada di ruang yang sama dengan pengidap penyakit campak bisa segera tertular. Bahkan, meskipun pengidap sudah pergi dari tempat tersebut, virus tetap tinggal pada ruang tersebut dan bisa memicu penularan.
Menginfeksi otak hingga paru-paru
Penyakit campak tidak hanya menimbulkan ruam pada permukaan kulit. Infeksi virus ini juga bisa menginfeksi paru-paru, bahkan hingga otak. Inilah sebabnya, ahli menyebut campak lebih berbahaya daripada COVID-19.