WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dugaan praktik komersialisasi obat HIV yang seharusnya diberikan secara gratis serta buruknya kondisi sanitasi rumah warga miskin menjadi perhatian serius dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IX DPR RI di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (21/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI Achmad Ru’yat menegaskan bahwa upaya memutus rantai penularan Tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS tidak akan efektif apabila pemerintah hanya berfokus pada penanganan di sektor hilir tanpa membenahi persoalan mendasar di tingkat hulu.
Baca Juga:
Kampanye Peringatan Hari AIDS Sedunia Ajak Warga Jangan Asingkan ODIV
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Wali Kota Medan itu mempertemukan Komisi IX DPR RI dengan Pemerintah Kota Medan, Kementerian Kesehatan, dan BPJS Kesehatan.
Pertemuan tersebut menjadi forum evaluasi sekaligus pembahasan percepatan program eliminasi TBC dan HIV/AIDS melalui kebijakan yang lebih terpadu, mulai dari pengobatan, edukasi masyarakat, hingga perbaikan lingkungan tempat tinggal warga rentan.
Dalam forum tersebut, Achmad Ru’yat secara khusus menyoroti pengawasan distribusi obat HIV jenis Antiretroviral (ARV).
Baca Juga:
Benarkah HIV Menular Lewat Nyamuk dan Sentuhan? Ini Penjelasan Lengkapnya
Ia mengaku prihatin atas adanya laporan dugaan praktik komersialisasi obat ARV yang seharusnya dapat diakses secara gratis oleh pasien HIV/AIDS melalui fasilitas layanan kesehatan.
“Ini menjadi bahan bagi kami, terutama bersama Kemenkes, untuk mencari formula bagaimana hal ini bisa diturunkan. Meskipun kami menyadari HIV ini salah satu faktornya, obat antiretroviral yang seharusnya gratis, katanya ada yang dikomersialkan. Ini harus ada pengawasan, jangan sampai terjadi,” ujar Achmad tegas.
Menurutnya, pengawasan distribusi obat harus diperketat agar tidak ada pihak yang mengambil keuntungan dari program kesehatan pemerintah.
Ia menilai, jika pengawasan lemah, maka bukan hanya merugikan pasien, tetapi juga berpotensi menghambat target pengendalian HIV/AIDS secara nasional.
Selain persoalan distribusi obat, Achmad juga menyinggung tingginya risiko penularan HIV akibat penggunaan jarum suntik secara bergantian tanpa standar sterilitas yang memadai.
Ia menilai, edukasi mengenai perilaku hidup sehat dan aman masih harus diperkuat, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap penularan penyakit menular.
Tak hanya itu, Achmad turut menyoroti pentingnya pendekatan sosial melalui penguatan ketahanan keluarga.
Menurutnya, dukungan keluarga memiliki peran penting dalam mencegah diskriminasi sekaligus membantu proses pengobatan dan pemulihan pasien HIV/AIDS.
“Perlu pendekatan ketahanan keluarga, bagaimana suami istri dapat menerima secara sempurna ketidaksempurnaan yang ada,” jelasnya.
Di luar persoalan HIV/AIDS, Achmad juga menaruh perhatian besar terhadap tingginya kasus TBC yang berkaitan erat dengan kondisi lingkungan dan kualitas hunian masyarakat miskin.
Rumah yang lembab, minim ventilasi, dan sanitasi buruk disebutnya menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran bakteri TBC di kawasan padat penduduk.
Ia mempertanyakan sejauh mana langkah konkret pemerintah pusat maupun daerah dalam melakukan intervensi terhadap rumah-rumah warga miskin di Kota Medan, khususnya masyarakat dalam kategori desil 1 hingga 4.
“Biasanya TBC itu karena rumahnya lembab, sanitasinya kurang, dan sebagainya. Saya juga menanyakan, berapa rumah miskin desil 1 sampai 4 di Kota Medan yang diintervensi melalui program Kemenkes untuk direnovasi,” kata Achmad.
Menurut Achmad, program renovasi rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik semata, tetapi juga merupakan bagian penting dari strategi kesehatan masyarakat.
Perbaikan sanitasi, sirkulasi udara, dan kualitas lingkungan dinilai menjadi langkah mendasar untuk memutus mata rantai penularan TBC dari sumber utamanya.
Sorotan yang disampaikan Achmad Ru’yat menjadi pengingat bahwa penanganan penyakit menular memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan lintas sektor.
Upaya pengobatan harus diiringi dengan pengawasan distribusi obat, edukasi perilaku hidup sehat, penguatan ketahanan keluarga, hingga peningkatan kualitas sanitasi dan hunian masyarakat agar target eliminasi TBC dan HIV/AIDS dapat tercapai secara maksimal.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]