Ia menambahkan bahwa tenaga kesehatan dari Puskesmas setempat bekerja secara bergantian untuk memastikan seluruh pengungsi mendapat layanan medis.
“Kami dari pihak Puskesmas dalam menanganinya dengan cara berganti shiff dari pagi sampai malam. Bagi yang ada keluhannya kami 'standby' di sini karena stok obat kami sudah lumayan memadai," kata Kristina.
Baca Juga:
Jadi Jembatan Hidup, Kapolsek Sibabangun Gendong Anak-anak Pengungsi Seberangi Sungai
Salah satu pengungsi, Jojor Mauli dari Desa Saur Paringi, telah dua minggu tinggal di Posko Batunagodang bersama 91 kepala keluarga lainnya setelah rumah mereka hancur diterjang banjir dan longsor.
Ia mengaku kondisi kesehatannya menurun akibat udara malam yang menusuk.
“Kondisi saya sakit terserang batuk karena bila malam terasa dingin sekali. Sebab bila tidur hanya dengan beraskan terpal saja,” kata dia.
Baca Juga:
Kemenkes Catat ISPA, Hipertensi, dan Diare Dominasi Penyakit Pengungsi di Aceh Tamiang
Jojor menambahkan bahwa banyak pengungsi lain juga mengalami batuk, pilek, sesak napas, dan sakit perut.
Meski begitu, ia bersyukur karena pemeriksaan kesehatan dilakukan setiap hari.
“Kami setiap hari ditensi darah dan juga diberikan obat-obatan. Bersyukur bila bantuan makanan tidak kekurangan,” ucapnya.