Gejala yang dialami pasien berupa demam, kelelahan, muntah berdarah dan diare. Kementerian Kesehatan menyatakan gejala ini mirip dengan penyakit lain seperti malaria, tifus dan demam berdarah sehingga menyebabkan penyakit Marburg sulit diidentifikasi.
Gejala penyakit virus Marburg dapat muncul secara tiba-tiba, dengan demam tinggi, sakit kepala parah, malaise parah, dan nyeri otot. Pada hari ketiga, seseorang dapat mengalami diare berair yang parah, nyeri perut, kram, mual dan muntah dengan diare yang dapat bertahan selama seminggu.
Baca Juga:
WHO: Rokok Lebih Mematikan Dibanding Kombinasi AIDS dan Malaria
Selain itu, pada fase ini seseorang dapat terlihat memiliki mata cekung. Pada dua hingga tujuh hari setelah awal gejala, ruam yang tidak gatal dapat timbul.
Gejala berat berupa perdarahan dapat terjadi pada hari kelima hingga ketujuh, dan pada kasus fatal perdarahan terjadi di beberapa area.
Perdarahan dapat terjadi di hidung, gusi, dan vagina serta dapat keluar melalui muntah dan pada feses.
Baca Juga:
Pria Ini Ajak Warga Sekampung Pindah Agama, Usai Dipenjara karena Ikut Yesus
Selama fase penyakit yang berat, pasien mengalami demam tinggi, dan gangguan pada sistem saraf pusat sehingga dapat mengalami kebingungan dan mudah marah.
Orkitis (radang testis) telah dilaporkan kadang-kadang pada fase akhir penyakit (15 hari). Dalam kasus yang fatal, kematian paling sering terjadi antara delapan dan sembilan hari setelah timbulnya gejala, biasanya didahului oleh kehilangan darah yang parah dan syok.
Saat ini belum ada vaksin yang tersedia untuk virus Marburg. Pengobatan yang bisa dilakukan bersifat simtomatik dan suportif yakni mengobati komplikasi dan menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit. [Tio/Ant]