WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menjaga tekanan darah dan gula darah serta tidak merokok sejak usia paruh baya ternyata dapat berkaitan dengan tambahan hingga 12 tahun kehidupan tanpa demensia berdasarkan sebuah studi terbaru.
Penelitian bertajuk "Midlife Vascular Risk Burden and Dementia-Free Survival Years" yang diterbitkan dalam jurnal Neurology pada Agustus 2026 mengungkap temuan mengenai hubungan faktor risiko vaskular pada usia paruh baya dengan kemungkinan munculnya demensia di kemudian hari.
Baca Juga:
Cegah Demensia Sejak Dini, Perhatikan Asupan Omega-3 Anda
Penelitian tersebut mengamati lebih dari 12.000 peserta selama 26 tahun untuk melihat dampak tiga faktor risiko vaskular utama berupa diabetes, hipertensi, dan kebiasaan merokok terhadap kesehatan kognitif.
Ahli saraf David Perlmutter, M.D., F.A.C.N., A.B.I.H.M., menilai hasil penelitian tersebut melengkapi temuan sebelumnya mengenai berbagai faktor risiko demensia yang sebenarnya dapat dimodifikasi.
Perlmutter menilai temuan tersebut menyempurnakan laporan Lancet Commission pada 2024 yang mengidentifikasi 14 faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi, dikutip Senin (17/8/2026).
Baca Juga:
Masih Muda tapi Pelupa, Ini Penyebabnya
Menurutnya, diabetes, hipertensi, dan kebiasaan merokok hanya menjadi bagian dari faktor yang lebih luas dan berpotensi memengaruhi risiko seseorang mengalami demensia.
Ia menilai berbagai penelitian semakin memperkuat pentingnya memperhatikan faktor risiko yang masih dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup maupun pengelolaan kesehatan.
"Sebagian besar risiko demensia berkaitan dengan faktor-faktor yang sebenarnya dapat kita pengaruhi," ujar Perlmutter.
Hasil studi menunjukkan semakin sedikit faktor risiko vaskular yang dimiliki seseorang pada usia paruh baya, semakin panjang pula periode kehidupan tanpa demensia yang ditemukan dalam pengamatan tersebut.
Peserta yang tidak memiliki satu pun dari tiga faktor risiko tercatat memiliki tambahan 12,6 tahun bebas demensia dibandingkan kelompok peserta yang memiliki ketiga faktor risiko tersebut.
Sementara itu, peserta yang memiliki satu faktor risiko tercatat mendapatkan tambahan 8,8 tahun bebas demensia dibandingkan mereka yang memiliki ketiga faktor risiko.
Peserta dengan dua faktor risiko memiliki tambahan sekitar 3,5 tahun bebas demensia dibandingkan kelompok yang mempunyai diabetes, hipertensi, sekaligus kebiasaan merokok.
Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya upaya pencegahan sejak dini karena kondisi metabolik dan vaskular pada usia paruh baya dapat berkaitan dengan kesehatan otak beberapa dekade kemudian.
Perlmutter menilai kesehatan otak memiliki hubungan erat dengan kondisi metabolik dan vaskular, sehingga berbagai faktor yang muncul pada usia paruh baya dapat memberikan konsekuensi terhadap fungsi kognitif beberapa dekade kemudian.
Penelitian tersebut juga menunjukkan pola akumulatif karena semakin banyak faktor risiko yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula risiko demensia yang ditemukan.
Satu faktor risiko sudah memberikan perbedaan, sementara kombinasi dua faktor menunjukkan risiko lebih besar dan keberadaan ketiganya sekaligus berkaitan dengan kondisi yang jauh lebih buruk.
"Orang dengan ketiganya memiliki risiko sekitar 2,7 kali lipat terkena demensia dibandingkan dengan mereka yang tidak memilikinya," ucap Perlmutter.
Meskipun risiko demensia tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, sejumlah faktor yang berkaitan dengan kesehatan otak masih dapat dikelola jauh sebelum gangguan memori mulai terlihat.
Perlmutter mengingatkan ancaman terhadap kesehatan otak dapat berkembang jauh sebelum masalah ingatan muncul sehingga masyarakat perlu mengetahui kondisi tekanan darah, gula darah, dan kesehatan metaboliknya sejak dini.
"Jangan merokok," tegas Perlmutter.
Selain mengendalikan tekanan darah dan gula darah, menghindari kebiasaan merokok dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Ahli saraf Jeremy M. Liff, M.D., menambahkan pengelolaan faktor-faktor tersebut tidak hanya berhubungan dengan kesehatan otak, tetapi juga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
“Merokok, diabetes, dan tekanan darah jelas merupakan faktor risiko yang akan menghentikanmu menjalani kehidupan yang lebih panjang dan secara umum lebih sehat,” ucap Liff.
Menurut Liff, manfaat mengendalikan ketiga faktor risiko tersebut karena itu tidak semestinya hanya dilihat dari perspektif pencegahan gangguan fungsi kognitif, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Upaya menjaga kesehatan otak juga dinilai tidak seharusnya baru dimulai ketika seseorang memasuki usia pertengahan 70-an atau ketika gejala gangguan ingatan telah muncul.
Perubahan biologis yang kemudian bermanifestasi sebagai kehilangan ingatan dapat mulai berkembang sekitar 20 hingga 30 tahun sebelum seseorang memperoleh diagnosis.
Perlmutter menilai menjaga kesehatan otak juga tidak cukup hanya mengandalkan suplemen, jenis makanan tertentu, maupun obat-obatan karena kebiasaan yang dijalankan secara konsisten selama bertahun-tahun memiliki peranan penting.
Selain memantau tekanan darah, mengendalikan kondisi metabolik, dan menjauhi rokok, terdapat sejumlah kebiasaan yang dianjurkan untuk mendukung kesehatan otak dan fungsi kognitif.
Kebiasaan yang dapat diterapkan untuk mendukung kesehatan otak antara lain:
• Rutin melakukan aktivitas fisik atau berolahraga.
• Memprioritaskan waktu dan kualitas tidur yang baik.
• Menjaga hubungan serta interaksi sosial.
• Mengonsumsi makanan utuh yang kaya serat.
• Terus mempelajari keterampilan maupun hal-hal baru.
• Melindungi kesehatan indra pendengaran.
• Membatasi konsumsi minuman beralkohol.
• Menghindari penggunaan stimulan pada malam hari.
Meski menunjukkan hubungan yang kuat antara faktor risiko vaskular dan masa hidup tanpa demensia, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga hasilnya belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak.
Demensia merupakan kondisi kompleks yang dapat dipengaruhi berbagai faktor lain di luar diabetes, hipertensi, dan kebiasaan merokok, termasuk faktor genetika serta lingkungan.
Hasil penelitian tersebut karena itu lebih tepat dipahami sebagai bukti mengenai hubungan antara pengelolaan kesehatan vaskular dan metabolik dengan risiko demensia, bukan sebagai jaminan bahwa seseorang dapat sepenuhnya mencegah demensia hanya dengan menghilangkan ketiga faktor risiko tersebut.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]