Selain itu, ketika mencerna serat, mereka menghasilkan asam lemak rantai pendek yang dapat masuk ke aliran darah dan mengalir ke otak untuk melindungi salah satu organ paling berharga tersebut.
Usus buntu yang misterius dan diremehkan itu ternyata berfungsi sebagai penampung bakteri “baik” itu, siap untuk mengisi kembali usus ketika kita kehilangan mereka, misalnya ketika diare atau setelah minum antibiotik.
Baca Juga:
Belasan Nakes Pilih Tetap Bekerja Meski Tanpa Digaji Usai Dipecat Bupati Taput, Ini Alasannya
Ini tidak pernah bisa ditebak Darwin, karena pada masanya para ilmuwan belum mengetahui keberadaan mikrobioma dalam tubuh manusia.
Dan ada sesuatu yang lain.
Beberapa dekade sebelumnya para ilmuwan menemukan bahwa usus buntu memiliki konsentrasi tinggi jaringan limfoid terkait usus (gut-associated lymphoid tissue), atau GALT, tetapi waktu itu mereka tidak mengetahui bahwa hal tersebut membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh jika terjadi serangan patogen.
Baca Juga:
Hadir di Indonesia, BrainEye Bakal Jadi Solusi Kesehatan Otak Berbasis Teknologi AI
Artinya, selain menjadi tempat penyimpanan bakteri, usus buntu terlibat dalam cara tubuh memahami ketika usus terancam dan bagaimana meresponsnya.
Dimanfaatkan Kaum Anti-Evolusionis