WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia kembali menunjukkan komitmen kuat untuk memastikan Proyek Abadi Masela dapat segera terealisasi setelah mengalami penundaan selama puluhan tahun.
Upaya percepatan tersebut terlihat dalam pertemuan antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan pimpinan perusahaan energi asal Jepang, INPEX Corporation, di Tokyo, Jepang.
Baca Juga:
Kerja Sama Dagang RI–AS Menguat, Investasi Mineral Wajib Bangun Smelter di Dalam Negeri
Dalam pertemuan yang berlangsung pada Minggu (15/3/2026) waktu setempat, Bahlil secara langsung mendorong agar proyek pengembangan lapangan gas raksasa yang berada di Laut Arafura itu segera memasuki tahap Final Investment Decision (FID).
Pemerintah menilai proyek strategis tersebut tidak boleh lagi berlarut-larut, mengingat potensinya yang sangat besar bagi ketahanan energi nasional dan pengembangan ekonomi di kawasan Indonesia Timur.
Pertemuan antara Bahlil dan CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda menjadi momentum penting untuk mempercepat realisasi proyek dengan nilai investasi sekitar USD20 miliar atau setara Rp339 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.900 per dolar AS).
Baca Juga:
Indonesia Tegaskan Produk Nonhalal Tak Wajib Label dan Sertifikat Halal
Bagi pemerintah Indonesia, Proyek Abadi Masela tidak hanya berfungsi sebagai sumber pasokan gas yang besar bagi kebutuhan industri dalam negeri di masa depan, tetapi juga diharapkan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru di wilayah timur Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga menyampaikan apresiasi terhadap perkembangan proyek yang telah mencapai sekitar 25 persen.
Ia menilai progres tersebut cukup signifikan dan harus segera diikuti dengan langkah lanjutan yang lebih konkret.
Melihat perkembangan tersebut, Bahlil menegaskan harapannya agar tahapan Front End Engineering and Design (FEED) dapat dimulai pada kuartal kedua tahun 2026 atau paling lambat pada kuartal ketiga tahun ini.
Dengan dimulainya tahap FEED, proses tender Engineering Procurement Construction (EPC) juga dapat dilakukan secara paralel sehingga proyek dapat berjalan lebih cepat.
"Karena kami berkeinginan ini bisa cepat supaya jangan ulur-ulur lagi. Ini 27 tahun, masa kita mau tunggu sampai usia saya 60 tahun baru jadi kan. Apalagi itu kampung ibu saya. Jadi saya pikir bisa tahun ini kita semua tender EPC," ujar Bahlil dalam pertemuan itu.
Untuk memastikan keberlanjutan proyek, Bahlil juga menawarkan solusi terkait kepastian pembeli gas dari Lapangan Abadi Masela. Proyek tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas produksi sekitar 9 Million Tonnes Per Annum (MTPA).
Ia menyampaikan bahwa apabila hingga akhir April 2026 belum terdapat pembeli yang serius, maka gas dari proyek tersebut dapat dibeli oleh Danantara, termasuk untuk mendukung program hilirisasi industri nasional.
"Supaya ada kepastian buyer. Saya menghargai buyer luar negeri, tapi pada saatnya sekarang negara Indonesia harus hadir, untuk bersama-sama dengan INPEX dalam rangka memastikan operasi. Jadi kami saja yang membeli," ujar Bahlil.
Menanggapi hal tersebut, CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda menyatakan apresiasinya atas dukungan pemerintah Indonesia terhadap proyek tersebut.
Ia menegaskan bahwa pihak INPEX juga memiliki komitmen yang sama untuk mempercepat realisasi Proyek Abadi Masela.
"Terima kasih banyak, Pak Menteri, untuk kemurahan hati dan komitmennya untuk mendukung proyek ini. Karena ini bukan hanya isu buat saya pribadi, tapi kami segera jajaran INPEX memiliki komitmen juga untuk mempercepat realisasi Abadi ini, termasuk ini saya sudah 12 tahun mengerjakan Abadi. Bukan hanya Pak Menteri, tetapi juga kami memiliki komitmen yang sama untuk segera mengerjakan Abadi. Dan setelah berdiskusi dengan Pak Menteri, kami semakin semangat lagi untuk mempercepat penyelesaian proyek Abadi ini," ujar Ueda.
Dari sisi administratif, perkembangan proyek ini juga semakin kuat setelah sejumlah perizinan penting berhasil diselesaikan pada awal tahun 2026.
Persetujuan lingkungan melalui dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) telah diterbitkan pada 13 Februari 2026.
Sebelumnya, pemerintah juga telah memberikan persetujuan pelepasan kawasan hutan oleh Kementerian Kehutanan pada Januari 2026.
Rampungnya berbagai perizinan tersebut menunjukkan adanya sinergi antar kementerian dan lembaga dalam mendukung realisasi investasi besar ini.
Di akhir agenda kunjungannya di Jepang, Menteri ESDM kembali mengingatkan pihak INPEX agar tetap konsisten dalam memenuhi setiap target dan tahapan proyek yang telah disepakati bersama.
Pemerintah berharap percepatan birokrasi dan komitmen investasi yang kuat dapat menjadikan Proyek Abadi Masela sebagai salah satu pusat energi baru di Laut Arafura.
Dengan berbagai perkembangan tersebut, proyek yang selama ini hanya menjadi wacana kini mulai menunjukkan arah yang lebih jelas menuju tahap pembangunan.
Jika berjalan sesuai rencana, Proyek Abadi Masela diproyeksikan menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia serta memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]