WAHANANEWS.CO, Jakarta - Suasana hangat mewarnai pembukaan kegiatan 27th AIPA Roadshow yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Bramantyo Suwondo, membuka sambutannya dengan sebuah pantun yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari para peserta yang didominasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Baca Juga:
Hinca Panjaitan Minta Polisi Hentikan Kasus Penjual BBM Eceran di Way Kanan: Tak Ada Unsur Kejahatan
Momentum tersebut menjadi pembuka dialog mengenai pentingnya peran ASEAN dalam menjaga stabilitas kawasan di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Dalam kesempatan itu, Bramantyo mengajak generasi muda untuk memahami posisi strategis ASEAN serta pentingnya menjaga sentralitas organisasi kawasan tersebut sebagai fondasi kerja sama di Asia Tenggara.
Menurutnya, tantangan global yang dihadapi saat ini semakin kompleks dan tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri oleh setiap negara.
Baca Juga:
Peringati HAN 2026, Puan Soroti Darurat Bullying dan Minta Perlindungan Anak Diperkuat
Karena itu, kolaborasi regional menjadi kunci untuk menghadapi berbagai persoalan lintas negara.
"Saat ini kita hidup di tahun 2026 dihadapkan dengan berbagai macam situasi yang sangat kompleks. Persaingan geopolitik, ketidakpastian ekonomi global, disrupsi transformasi digital, risiko perubahan iklim, hingga ancaman ketahanan pangan dan energi. Semua isu ini tidak dapat diselesaikan oleh hanya satu negara dan membutuhkan kerja sama antarnegara. Hal ini bukanlah suatu pilihan, melainkan suatu kebutuhan dan keharusan," tutur Bram.
Bramantyo menjelaskan, dibandingkan beberapa kawasan lain di dunia yang masih diwarnai konflik dan ketegangan geopolitik, ASEAN justru mampu mempertahankan stabilitas politik dan keamanan.
Kondisi tersebut, menurutnya, merupakan modal penting yang harus terus dijaga melalui semangat kebersamaan dan dialog antarnegara anggota.
Ia juga mengenang pengalamannya ketika masih menempuh pendidikan di bidang hubungan internasional pada 2012.
Saat itu, dinamika kawasan berbeda dengan kondisi saat ini, di mana ASEAN dinilai semakin diperhitungkan sebagai salah satu kawasan paling stabil di dunia.
"Kita melihat regional ASEAN merupakan regional yang paling stabil dan paling aman dibandingkan regional-regional lainnya. Oleh karenanya, kita saling belajar di sini, saling mengerti sama satu sama lain dan semoga dialog ini penuh dengan masukan, penuh dengan pembicaraan yang konstruktif," tutur Politisi Fraksi Partai Demokrat tersebut.
Menurut Bramantyo, keberhasilan ASEAN menjaga stabilitas kawasan tidak terlepas dari kuatnya komitmen negara-negara anggota dalam mengedepankan dialog, musyawarah, dan prinsip ASEAN Way.
Oleh sebab itu, sentralitas ASEAN harus terus diperkuat agar organisasi tersebut tetap menjadi motor penggerak kerja sama di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun keamanan kawasan.
"Dalam situasi inilah kita harus terus memperkuat sentralitas ASEAN, yakni ASEAN sebagai penggerak utama dalam hubungan politik, ekonomi, sosial, budaya dan juga keamanan,” tegasnya.
Pandangan serupa disampaikan Sekretaris Jenderal ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA), Chem Widhya.
Ia mengatakan, kawasan ASEAN saat ini menghadapi tantangan yang semakin beragam, mulai dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik, ancaman keamanan kawasan, dampak perubahan iklim, hingga pesatnya perkembangan teknologi digital yang mengubah berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Menurut Chem, kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya solidaritas antarnegara anggota ASEAN sebagai fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan memperkuat posisi kawasan di tingkat global.
"Perkembangan tersebut semakin menegaskan pentingnya solidaritas ASEAN. Bukan sekadar sebagai sebuah konsep kelembagaan, tetapi yang lebih penting sebagai kemampuan kolektif ASEAN untuk membangun dan menjaga persatuan, memfasilitasi dialog, serta menjalin kerja sama yang konstruktif dengan para mitra, dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang dimiliki ASEAN," ujar diplomat senior asal Kamboja itu.
Lebih lanjut, Chem menilai masa depan ASEAN tidak hanya bergantung pada peran pemerintah maupun parlemen.
Generasi muda juga memiliki posisi yang sangat strategis dalam memastikan keberlanjutan kerja sama kawasan, sekaligus menjaga nilai-nilai persatuan yang telah menjadi identitas ASEAN selama puluhan tahun.
Ia menyoroti besarnya potensi bonus demografi di kawasan, di mana hampir separuh populasi ASEAN merupakan kelompok usia muda yang akan menjadi penentu arah pembangunan kawasan pada masa mendatang.
"Hampir separuh penduduk ASEAN berusia di bawah 30 tahun. Di tengah ASEAN yang terus menghadapi lingkungan yang semakin kompleks, generasi muda memiliki peran penting dalam memperkuat kerja sama kawasan, membangun saling pengertian, serta menjaga nilai-nilai yang telah lama mempersatukan kawasan kita." tambah Chem.
Sementara itu, Bramantyo mengajak seluruh mahasiswa yang hadir untuk tidak hanya mengenal ASEAN sebagai organisasi regional, tetapi juga merasa memiliki tanggung jawab dalam menjaga masa depan kawasan.
Ia menilai, keterlibatan generasi muda sangat penting dalam memperkuat identitas ASEAN sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi lintas negara di masa depan.
"ASEAN ini adalah milik kita semua, ASEAN ini adalah rumah kita. Dan bagi semua generasi muda yang akan menentukan kawasan ke depan, tentunya ini adalah salah satu keinginan kita bersama. Saya berharap kegiatan AIPA Roadshow dapat memperluas wawasan adik-adik semua tentang ASEAN dan juga AIPA, serta pentingnya peran bersama dalam menjaga kawasan," pungkas Bram.
Sebagai informasi, 27th AIPA Roadshow merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Ke-17 Kaukus Majelis Antar-Parlemen ASEAN (AIPA Caucus) yang telah berlangsung di Gedung DPR RI pada 22 Juli 2026.
Forum ini mengangkat tema "Anchors of Unity, Bridges of the Future: Strengthening ASEAN Centrality in Navigating Global Challenges" dan menjadi wadah dialog antara parlemen dengan generasi muda mengenai pentingnya memperkuat sentralitas ASEAN dalam menghadapi berbagai tantangan global, sekaligus memperluas pemahaman mahasiswa mengenai peran AIPA dalam mendukung integrasi dan kerja sama kawasan
[Redaktur: Ajat Sudrajat]