“Di tempat seperti Sepatin, akses pendidikan bukan hanya soal bangunan sekolah, tetapi juga soal keberanian guru mengabdi, ketekunan siswa belajar, dan kehadiran dukungan nyata dari berbagai pihak,” ucapnya.
Tohom memandang keberadaan laptop, listrik tenaga surya, akses internet, taman belajar, serta program penguatan kapasitas guru sebagai fondasi penting untuk mempersempit kesenjangan pendidikan antara wilayah kota dan daerah 3T.
Baca Juga:
Geger 326 Kepsek Sulsel Ingin Mundur, Temuan Dana BOS Jadi Pemicu
“Anak-anak pesisir tidak boleh tertinggal dari anak-anak kota hanya karena jarak, infrastruktur, dan kondisi geografis, sehingga teknologi pendidikan harus menjadi jembatan pemerataan,” katanya.
Menurut Tohom, keberhasilan guru SMPN 6 Anggana Nurul Fitriana meraih beasiswa Fulbright Distinguished Award in Teaching Program for International Teachers dari Pemerintah Amerika Serikat pada 2025 menjadi inspirasi besar bagi dunia pendidikan daerah terpencil.
“Ketika seorang guru dari sekolah pesisir bisa menembus program internasional, maka pesan moralnya sangat kuat bahwa kualitas manusia Indonesia bisa tumbuh dari mana saja selama diberi dukungan dan kesempatan,” ujarnya.
Baca Juga:
Pemerintah Bangun 100 Sekolah Nasional Terintegrasi, Satu Di antaranya Berlokasi di IKN
Ia juga mengapresiasi prestasi siswa SMPN 6 Anggana di bidang seni lukis dan menggambar tingkat internasional, termasuk karya Ainun Nisa yang dipamerkan di Abu Dhabi dan capaian Idul dalam Fish Art Contest di Amerika Serikat.
“Prestasi anak-anak ini membuktikan bahwa talenta besar sering kali lahir dari tempat yang jauh dari sorotan, sehingga tugas kita adalah membuka panggung agar mereka bisa terlihat dan berkembang,” katanya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa Program Sekolah Negeri Terapung juga menarik karena tidak hanya bicara pendidikan, tetapi turut mengaitkan pembelajaran dengan ekosistem pesisir melalui kegiatan penanaman mangrove dan penguatan kesadaran lingkungan.