Tohom juga menyoroti pentingnya aspek sosial dalam pengelolaan TPA bersama. Ia mengapresiasi langkah Pemkot Tangsel dan Pemkot Serang yang lebih dulu melakukan dialog dengan warga sekitar TPA Cilowong serta menyiapkan kompensasi dan pembangunan infrastruktur lingkungan.
“Penerimaan masyarakat adalah kunci. Jika warga dilibatkan sejak awal dan dampak negatifnya dikompensasi secara layak, konflik bisa dihindari,” tegasnya.
Baca Juga:
Bahas Proyek Hilirisasi Rp100 Triliun, Prabowo Terima Rosan di Hambalang
Di sisi lain, Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa kolaborasi Tangsel–Serang sejalan dengan konsep penataan aglomerasi perkotaan yang ideal.
Menurutnya, masalah lingkungan seperti sampah, banjir, dan transportasi memang harus ditangani secara lintas wilayah.
“Ini contoh nyata tata kelola aglomerasi. Sampah tidak mengenal batas administrasi, maka solusinya juga harus lintas batas,” ujarnya.
Baca Juga:
Dukung Langkah KLH, MARTABAT Prabowo–Gibran Dorong Standardisasi Nasional Pengelolaan Sampah
Ia menambahkan, kerja sama ini dapat menjadi fondasi pengembangan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, termasuk penerapan teknologi pengolahan dan pengurangan residu.
“Ke depan, TPA harus didorong menjadi pusat pengolahan, bukan sekadar tempat buang akhir. Jika dikelola bersama, investasinya lebih rasional dan manfaatnya lebih luas,” kata Tohom.
Menurut Tohom, kolaborasi semacam ini juga sejalan dengan semangat pemerintahan Prabowo-Gibran yang menekankan efisiensi, keberlanjutan, dan sinergi antardaerah.