WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pengakuan mengejutkan datang dari akademisi Prof. Dr. Dian Damayanti setelah kontroversi profil dan karya ilmiahnya bergulir luas di media sosial, dengan mengakui pencantuman nama Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam sejumlah publikasi dilakukan tanpa izin.
Dian menyampaikan pengakuan tersebut melalui surat klarifikasi dan permohonan maaf terbuka setebal enam halaman yang turut menjelaskan berbagai klaim akademis dan penggunaan nama sejumlah tokoh serta lembaga.
Baca Juga:
Konflik Kepentingan Jadi Pemicu Korupsi, Kementerian PANRB Dorong ASN Deklarasi Sejak Dini
Dalam surat bermaterai tersebut, Dian menyatakan pencantuman nama tokoh maupun lembaga negara merupakan inisiatif pribadinya dan dilakukan tanpa persetujuan pihak yang namanya dikaitkan dengan publikasi tersebut.
Ia juga menjelaskan pihak-pihak lain yang sebelumnya disebut berkaitan dengan pencantuman nama Presiden Prabowo tidak mengetahui dasar maupun proses perizinannya.
"Mengenai pencantuman nama Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu penulis dalam buku yang diterbitkan, saya nyatakan bahwa Pak Iwan dan Pak Ashar tidak memahami dan tidak mengetahui dasar atau alasan pencantuman nama beliau," tulis Dian dalam surat permohonan maaf tertulisnya, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga:
Menhaj Lantik Enam Pejabat Baru, Tekankan Integritas dan Zero Tolerance terhadap Korupsi
Ditegaskan Dian, kedua orang tersebut tidak mengetahui proses ataupun izin yang seharusnya menjadi dasar pencantuman nama Presiden dalam publikasi.
"Mereka tidak memiliki pengetahuan mengenai proses atau izin yang melandasi pencantuman nama Presiden dalam publikasi tersebut," tulisnya.
Selain persoalan pencantuman nama Presiden, Dian turut memberikan penjelasan mengenai klaim nominasi Nobel Perdamaian yang sebelumnya menjadi salah satu pusat kontroversi.