"Saya mengimbau, kita yang pejabat-pejabat tinggi jangan asal ngomong. Pakai data. Ada nggak datanya? Baru ngomong. Jangan asal nuduh. Tidak elok itu asal nuduh. Menurut saya kampungan itu," ucap Luhut.
"Kalau boleh jujur, saya sudah menolak keberadaan PT Toba Pulp Lestari (yang sebelumnya dikenal sebagai PT Indorayon) sejak lebih dari 20 tahun lalu," tambahnya.
Baca Juga:
Pasar Modal Bergejolak, 70 Emiten Terancam Angkat Kaki dari BEI
Penolakan itu, kata dia, bukan tanpa alasan. Sebab, jelasnya, saat menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) di era Presiden Gus Dur tahun 2001, Luhut mengaku menyaksikan sendiri keluhan masyarakat tentang Danau Toba yang semakin keruh dan berbau
"Belum lagi, kawasan hutan yang kian rusak. Dari situ saya belajar satu hal penting: pembangunan tidak boleh mengorbankan ruang hidup masyarakat," tulis Luhut.
Baca Juga:
Operasional Dihentikan Pemerintah, Saham Toba Pulp Lestari Disuspensi BEI
Dia pun bercerita bagaimana cucunya berpesan agar tidak pernah membuat kebijakan yang membahayakan masa depan generasi muda, terutama dalam hal pelestarian lingkungan. Pesan itu, ucapnya, selalu menjadi pertimbangannya dalam menentukan setiap kebijakan.
"Seakan menjadi "reminder" bahwa setiap keputusan yang diambil hari ini adalah warisan bagi anak cucu kita nanti," ucap Luhut.
"Karena itu, saya sudah menyampaikan kepada Presiden Prabowo bahwa lahan tersebut harus dikembalikan untuk kepentingan rakyat. Kami akan ubah eksploitasi menjadi pemulihan yang menumbuhkan harapan. Pertanian berbasis teknologi dan pemulihan ekosistem akan menjadi upaya untuk memulihkan masa depan masyarakat Tapanuli secara lebih bermartabat," bebernya.