Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi sebesar 53,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Meski laju pertumbuhannya sedikit melambat menjadi 5,05 persen dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 5,52 persen karena terdorong momentum mudik dan Lebaran, konsumsi masyarakat dinilai tetap berada pada level yang cukup kuat.
Baca Juga:
BAKN DPR RI Uji Petik Penyaluran LPG 3 Kg di Sumbar, Dalami Temuan BPK
Tidak hanya itu, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga menunjukkan kinerja yang positif dengan pertumbuhan sebesar 6,87 persen.
Sementara itu, ekspor mengalami peningkatan yang cukup signifikan menjadi 4,13 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 0,9 persen.
Meski secara umum indikator ekonomi menunjukkan tren yang menggembirakan, Said mengingatkan pemerintah untuk memberi perhatian khusus terhadap perlambatan yang terjadi pada sektor industri pengolahan dan sektor pertanian.
Baca Juga:
Inflasi Tahunan Kalimantan Timur Capai 3,20 Persen pada Juni 2026, BPS Laporkan Peningkatan
Menurutnya, kedua sektor tersebut memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Industri pengolahan, misalnya, mengalami perlambatan dari 5,04 persen pada triwulan I-2026 menjadi 4,52 persen pada triwulan II-2026.
"Pemerintah penting untuk mewaspadai hal ini, sebab industri pengolahan menyumbangkan 18,5 persen dari PDB, sekaligus menjadi kontributor 13,5 persen tenaga kerja nasional dan cerminan sebagian besar tenaga kerja formal," tegas Said.