"Kita mendapatkan informasi berdasarkan laporan para misionaris Katolik dari Serikat Yesus (dikenal juga dengan sebutan Yesuit), tentang kehadiran komunitas Yahudi di Malaka. Laporan ini termasuk yang berasal dari misionaris terkemuka Fransiskus Xaverius (1506-1552), dalam kunjungannya ke Malaka tahun 1547, ia berjumpa dengan kaum Yahudi Sefardi (Sefarad artinya Spanyol) beserta sinagogenya," tulis Leonard.
Sebagian motif mereka menetap di India dan Malaka adalah sebagai upaya menghindarkan diri dari Pengadilan Inkuisisi, yaitu peradilan agama dalam Gereja Katolik yang memerangi pemurtadan. Targetnya terutama kaum Yahudi dan kaum Muslim, yang sebelumnya telah dikristenkan secara paksa. Inkuisisi yang paling aktif adalah di Spanyol dan Portugis.
Baca Juga:
Kementerian Agama Baka Gelar Natal Bersama: Pertama dalam Sejarah
Ketika Belanda datang dengan tujuan yang sama untuk berdagang, komunitas Yahudi pun terus bertambah. Lewat Perusahaan Dagang Hindia Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang dibentuk pada 20 Maret 1602, mereka datang ke Indonesia untuk berniaga.
Bahkan perusahaan dagang ini saham terbesarnya dipegang oleh Isaac Le Maire, seorang pedagang dan investor keturunan Yahudi dari Wallonia (sekarang Belgia).
Karena makin banyaknya orang Yahudi yang datang ke Hindia Belanda, Tahun 1857, dua rabi yang bermukim di Den Haag dan seorang rabi asal Rotterdam yakni Bernstein, Ferares dan Isaacsohn, menandatangani petisi kepada Kerajaan Belanda.
Baca Juga:
Swiatek Ukir Sejarah di Wuhan Open 2025, Raih 60 Kemenangan Empat Musim Beruntun
Ketiganya mendukung permohonan salah seorang tokoh Yahudi, Israel Benjamin, untuk pergi ke Hindia Belanda mendirikan komunitas Yahudi yang kokoh seperti yang telah berdiri di West Indies alias Suriname.
Menurut Jeffrey Hadler dalam penelitiannya di Universitas California berjudul Translations of Antisemitism: Jews, The Chinese and Violance in Colonial and Post-Colonial Indonesia, Benjamin merupakan segelintir orang pertama mengangkat fakta kehadiran komunitas Yahudi di Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia.
Namun kepada otoritas Kerajaan Belanda, tiga rabi tadi menyatakan komunitas Yahudi di Hindia Belanda tidak akan mampu membuat pendirian komunitas Yahudi yang kokoh. Alasannya status sosial yang rendah, kata para rabi itu, akan menghambat upaya swadaya itu.