WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif langkah Pemerintah Kabupaten Bantul yang mulai menjajaki kerja sama investasi dengan China, terutama dalam pengembangan teknologi pengelolaan sampah menjadi energi dan penyediaan air bersih.
“Penjajakan investasi ini dapat menjadi peluang strategis bagi Bantul apabila diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, menyelesaikan persoalan lingkungan, dan memperkuat kemandirian ekonomi daerah,” kata Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba.
Baca Juga:
Swedia Impor Sampah, Indonesia Malah Kewalahan: Peneliti BRIN Bongkar Penyebabnya
Menurut Tohom, investasi asing yang masuk ke daerah perlu ditempatkan sebagai sarana mempercepat pembangunan, bukan hanya sebagai pencapaian angka realisasi penanaman modal.
Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Bantul harus memastikan setiap kerja sama mencakup transfer teknologi, peningkatan kemampuan tenaga kerja lokal, serta keterlibatan pelaku usaha daerah.
“Teknologi yang dibawa investor harus dapat dipelajari, dioperasikan, dan dalam jangka panjang dikembangkan oleh sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga:
Tambang Emas Martabe Ubah Ribuan Sampah Menjadi Taman Ecobrick
Tohom menilai teknologi pengolahan sampah menjadi energi memiliki relevansi besar bagi Bantul karena persoalan sampah tidak cukup diselesaikan melalui pengangkutan dan penimbunan.
Menurutnya, sampah perlu dikelola sebagai sumber daya yang dapat menghasilkan energi, bahan bakar alternatif, bahan baku industri, maupun nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Apabila dirancang secara tepat, investasi pengolahan sampah dapat mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus menciptakan sumber energi dan lapangan kerja baru,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa pemilihan teknologi harus didasarkan pada karakteristik sampah, kemampuan fiskal daerah, kebutuhan energi, serta kesiapan infrastruktur pendukung.
Pemerintah daerah juga perlu menghitung biaya operasional, kebutuhan pasokan sampah, harga energi yang dihasilkan, dan kemampuan fasilitas bertahan dalam jangka panjang.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa banyak proyek pengolahan sampah menghadapi kendala karena perencanaan lebih berfokus pada pembangunan fasilitas dibandingkan keberlanjutan operasionalnya.
“Jangan sampai fasilitas dibangun dengan biaya besar, tetapi kemudian berhenti beroperasi karena pasokan bahan baku, biaya pemeliharaan, atau model bisnisnya tidak dipersiapkan sejak awal,” tuturnya.
Ia juga mendorong Pemerintah Kabupaten Bantul melakukan kajian lingkungan secara terbuka sebelum menentukan lokasi dan teknologi yang akan digunakan.
Kajian tersebut diperlukan untuk memastikan proses pengolahan sampah tidak menimbulkan pencemaran udara, air, maupun residu baru yang membebani masyarakat sekitar.
Selain pengelolaan sampah, Tohom menilai teknologi pengubahan air laut menjadi air tawar dapat menjadi pilihan jangka panjang dalam menghadapi pertumbuhan kebutuhan air dan ancaman krisis air bersih.
Namun, teknologi desalinasi harus mempertimbangkan kebutuhan energi yang besar, biaya produksi air, pengelolaan limbah garam, serta dampaknya terhadap ekosistem pesisir.
“Teknologi air laut menjadi air tawar memiliki prospek, tetapi penerapannya harus disesuaikan dengan kebutuhan wilayah dan kemampuan masyarakat membayar layanan air,” jelasnya.
Tohom mengatakan kawasan Pantai Selatan Bantul memiliki potensi ekonomi besar, tetapi pengembangannya harus menghormati status hukum lahan, tata ruang, budaya lokal, dan keberlanjutan lingkungan.
Status sebagian lahan sebagai Sultan Ground juga perlu diselesaikan melalui koordinasi yang transparan agar tidak menimbulkan persoalan hukum maupun konflik pemanfaatan ruang.
Ia menyarankan pemerintah daerah membentuk tim lintas sektor yang melibatkan perangkat daerah, akademisi, ahli teknologi, tokoh masyarakat, dan perwakilan lingkungan hidup untuk menilai setiap proposal investasi.
Tim tersebut dapat menguji kelayakan teknologi, kemampuan pendanaan investor, dampak sosial, manfaat ekonomi, dan kesesuaiannya dengan rencana pembangunan daerah.
“Investor yang dipilih harus memiliki rekam jejak, kemampuan teknologi, kekuatan pendanaan, serta komitmen terhadap lingkungan dan masyarakat lokal,” katanya.
Tohom berharap penjajakan bersama China dapat menghasilkan kerja sama yang adil, terukur, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Bantul.
Ia menilai keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal yang masuk, tetapi juga oleh kemampuannya menyelesaikan persoalan daerah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Investasi terbaik adalah investasi yang meninggalkan teknologi, keahlian, lapangan kerja, lingkungan yang lebih baik, dan nilai tambah ekonomi bagi generasi berikutnya,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Sandy]