WahanaNews.co | Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila Bambang Soesatyo menghadiri Diklat Khusus Pimpinan Pemuda Pancasila di Kantor MPN Pemuda Pancasila, Jakarta.
Pada kesempatan tersebut, ia mengajak kader Pemuda Pancasila untuk tetap solid dan konsisten dalam menegakkan nilai-nilai luhur Pancasila.
Baca Juga:
Sisi Kelam AI Diungkap Polisi Inggiris, Untuk Penipuan hingga Pelecehan Seksual
Apalagi Pemuda Pancasila akan memasuki usia ke-63 tahun pada tanggal 28 Oktober 2022 nanti. Selama puluhan tahun eksis, menurutnya organisasi ini telah melewati dinamika sejarah yang kompleks.
"Setiap kader Pemuda Pancasila memiliki tanggung jawab untuk bersama-sama menjaga soliditas organisasi, dan menjaga semangat pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Termasuk membangun citra positif organisasi di mata masyarakat. Setiap kader Pemuda Pancasila juga harus senantiasa menjadi motor penggerak dalam implementasi nilai-nilai kebangsaan di tengah-tengah masyarakat," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (15/10/2022).
Mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan,derasnya arus globalisasi dan modernitas zaman yang ditopang oleh kemajuan teknologi, tidak menjadikan upaya menjaga dan merawat Pancasila menjadi semakin mudah. Sebaliknya, kondisi tersebut justru menghadirkan tantangan yang semakin kompleks dan dinamis.
Baca Juga:
Satgas Operasi Madago Raya dan Kemenag Sigi Perkuat Sinergi Cegah Radikalisme
"Kehidupan kebangsaan kita diperhadapkan pada berbagai paradigma yang menjadi antithesis dari nilai-nilai luhur Pancasila. Survei CSIS pada tahun 2017 menyebutkan 9,5% generasi milenial setuju mengganti Pancasila dengan ideologi yang lain. Survei LSI di tahun 2018 mencatat masyarakat yang pro terhadap Pancasila telah mengalami penurunan sekitar 10 persen, dari 85,2% pada tahun 2005, menjadi 75,3% pada tahun 2018," jelasnya.
"Sedangkan, Survei Komunitas Pancasila Muda di tahun 2020 menunjukan sekitar 19,5% generasi muda menganggap Pancasila hanya sekedar istilah yang tidak dipahami maknanya," kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum SOKSI ini memaparkan berdasarkan survei Pusat Studi Pancasila UGM bersama Indonesia Presidential Studies di tahun 2021, tercatat 90,6% responden setuju dengan pandangan Pancasila sebagai Ideologi NKRI. Artinya masih ada 9,4% masyarakat yang memiliki pandangan berbeda.
Selanjutnya, survei SMRC pada tahun 2022 menunjukkan dari tingkat yang paling elementer sekalipun, pengetahuan dasar masyarakat tentang Pancasila masih belum optimal dengan skor 64,6 atau dalam kategori 'sedang'.
Demikian pula komitmen publik terhadap nilai-nilai Pancasila, dan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa juga diklasifikasikan dalam kategori 'sedang-sedang saja'.
"Hingga saat ini masih dapat kita rasakan indikasi adanya upaya untuk menggoyahkan dan merongrong Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara. Khususnya melalui gerakan radikalisme, penciptaan segregasi terhadap persatuan dan kesatuan bangsa," papar Bamsoet.
Wakil Ketua Umum dan Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menyebut tantangan lainnya adalah eksklusivisme sosial yang terkait derasnya arus globalisasi yang mengarah kepada menguatnya kecenderungan politisasi identitas, gejala polarisasi dan fragmentasi sosial yang berbasis SARA.
Dikatakan Bamsoet, ujian terhadap ketahanan ideologi Pancasila akan selalu ada dalam setiap periodisasi zaman.
Nilai-nilai Pancasila juga akan terus dihadapkan pada gelombang peradaban dengan hadirnya berbagai ideologi alternatif yang masuk melalui pintu globalisasi dan kemajuan teknologi informasi.
"Karenanya, Pemuda Pancasila harusnya menjadi sumber daya nasional yang mempelopori pelaksanaan implementasi, aktualisasi, dan revitalisasi nilai-nilai Pancasila. Setiap kader Pemuda Pancasila harus mampu mentransformasikan diri menjadi cerminan nilai-nilai luhur Pancasila, dalam paradigma wawasan kebangsaan," pungkas Bamsoet. [jat]