"Ini juga bagian yang akan kita terus evaluasi, tapi yang jelas adalah laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun," sambungnya.
Ia menambahkan pemerintah akan berfokus membenahi sistem transportasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Baca Juga:
Sebut Wayang Kulit Bentuk Budaya Singapura, PM Lawrence Wong Diserbu Netizen RI
"Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan lakinya tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat, menghadirkan rasa aman, nyaman, dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon tapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik," ujarnya.
Pembahasan mengenai gerbong khusus wanita pun ramai dibicarakan publik, terutama di media sosial, termasuk soal sejarah dan alasan posisinya berada di ujung rangkaian kereta.
Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, gerbong KRL khusus wanita pertama kali diresmikan pada Kamis (19/8/2010) oleh Menteri Perhubungan saat itu Freddy Numberi pada KRL seri 7000 di Depo Depok, Jawa Barat.
Baca Juga:
Prabowo: Uang yang Diselamatkan dari Korupsi Kini Dikembalikan ke Rakyat
"Pengoperasian Kereta Khusus Wanita merupakan terobosan baru sebagai wujud pelayanan transportasi Kereta Api kepada publik pengguna kereta api," kata Menhub kala itu.
Kehadiran gerbong ini bertujuan memberi perlindungan, rasa aman, dan kenyamanan bagi penumpang perempuan serta penumpang yang membawa anak kecil, terutama untuk mencegah risiko pelecehan seksual di dalam kereta.
Secara operasional, gerbong khusus wanita ditempatkan di bagian paling depan dan paling belakang dalam satu rangkaian kereta serta diberi penanda khusus.