WAHANANEWS.CO, Jakarta - Klarifikasi resmi operator taksi listrik Green SM Indonesia justru memantik amarah publik setelah tragedi maut di Stasiun Bekasi Timur, karena dinilai minim empati dan tak memuat permintaan maaf kepada korban.
Pernyataan yang dirilis melalui akun Instagram resmi @id.greensm pada Selasa (28/4/2026) dini hari itu menuai kecaman luas dari masyarakat.
Baca Juga:
Tragedi Bekasi Timur, BPKN Minta KAI Benahi Sistem dan Penuhi Hak Korban
Insiden tragis tersebut bermula pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.50 WIB ketika sebuah kendaraan taksi listrik Green SM mogok di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur.
Diceritakan Ahmad, saksi mata yang berada sekitar 50 meter dari lokasi kejadian, situasi berlangsung mencekam saat kendaraan tak bisa bergerak di tengah lintasan rel.
“Pas di tengah perlintasan kereta api taksinya mogok,” ungkapnya.
Baca Juga:
Kecelakaan Kereta Bekasi: Hingga Kini Terkonfirmasi Korban 14 Meninggal 84 Luka
Tak lama setelah itu, peringatan kedatangan KRL Commuter Line dari arah Cikarang menuju Jakarta mulai berbunyi.
Upaya evakuasi kendaraan sempat dilakukan oleh penjaga perlintasan bersama warga sekitar, namun tidak membuahkan hasil.
“Dia mau dorong juga tapi taksinya nggak bergerak,” tutur Titi.
Tabrakan pertama pun terjadi ketika KRL menghantam taksi listrik tersebut hingga terseret sejauh kurang lebih 50 meter ke arah stasiun.
Setelah benturan awal, rangkaian KRL berhenti sesuai dengan prosedur operasional yang berlaku.
Namun situasi belum sepenuhnya aman karena kendaraan masih melintang di jalur rel.
Dalam waktu berdekatan, KRL lain tujuan Cikarang tengah melakukan aktivitas naik turun penumpang di Stasiun Bekasi Timur.
Saat kereta mulai bergerak, masinis diduga melihat kondisi darurat di depan dan langsung melakukan pengereman mendadak.
Sejumlah penumpang bahkan sempat keluar dari gerbong untuk melihat kondisi di sekitar lokasi kejadian.
Beberapa saat kemudian, KA Argo Bromo Anggrek melaju dari arah belakang dengan kecepatan tinggi dan menghantam rangkaian KRL secara dahsyat.
Benturan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada gerbong terakhir, khususnya gerbong khusus perempuan yang hancur hingga lokomotif menembus bagian dalam dan menjebak penumpang.
Pasca kejadian, perhatian publik beralih pada sikap perusahaan operator taksi listrik tersebut.
Green SM Indonesia diketahui menutup kolom komentar di akun media sosial resminya sehingga publik tidak dapat menyampaikan respons secara langsung.
Beberapa jam setelah kejadian, perusahaan akhirnya merilis pernyataan resmi.
Namun isi pernyataan tersebut justru memicu kontroversi karena tidak memuat permintaan maaf maupun ucapan belasungkawa kepada korban.
“Green SM Indonesia menaruh perhatian penuh pada terjadinya insiden di area perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026, yang melibatkan satu kendaraan Green SM dan kereta yang melintas,” demikian pernyataan resmi mereka.
Perusahaan menyebut telah berkoordinasi dengan pihak berwenang dan mendukung proses investigasi yang sedang berlangsung.
“Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung,” lanjutnya.
Dalam pernyataannya, perusahaan juga menegaskan komitmen terhadap keselamatan operasional.
“Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami,” tulisnya.
Mereka menyatakan akan terus meningkatkan sistem pengawasan dan layanan.
“Kami berkomitmen untuk menjaga standar keselamatan yang tinggi melalui sistem operasional, pengawasan, serta peningkatan layanan secara berkelanjutan,” lanjut pernyataan tersebut.
Green SM Indonesia juga memastikan akan memberikan pembaruan informasi sesuai perkembangan investigasi.
“Kami akan terus menyampaikan perkembangan terbaru seiring dengan tersedianya informasi yang telah terverifikasi,” tutupnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]