Berdasarkan data operasional pengumpulan dan pengiriman di lapangan, selama periode Maret hingga Mei 2026 program ini mencatat total pengelolaan limbah sekitar 8,2 ton.
Dari sisi lingkungan, berdasarkan estimasi internal dan faktor emisi standar untuk skenario pengelolaan limbah dibandingkan dengan pembuangan akhir, program ini diperkirakan menghasilkan sekitar 40 ton CO₂e emisi yang berpotensi dihindari selama periode tersebut.
Baca Juga:
PLN ES Dorong Transformasi Bank Sampah KATA Jadi Sumber Ekonomi
Angka tersebut merupakan estimasi dampak tidak langsung dari pengalihan limbah ke sistem bank sampah, bukan hasil pengukuran langsung di lapangan.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan mengatakan, data pengelolaan 8,2 ton limbah dan estimasi avoided emissions sekitar 40 ton CO₂e perlu dibaca sebagai sinyal penting bahwa pengelolaan sampah harus semakin diarahkan pada sistem berbasis nilai.
“Ke depan, perusahaan perlu membangun pelaporan dampak lingkungan yang makin rapi, karena publik tidak hanya melihat niat baik, tetapi juga ingin mengetahui berapa besar dampak yang benar-benar dihasilkan,” ujarnya.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi Kemandirian Energi PTPN IV Ubah Limbah Sawit Jadi Listrik
Ia menilai pola kerja sama antara Decathlon Foundation Indonesia, J&T Cargo, dan Yayasan KDM dapat menjadi model lintas sektor yang relevan untuk diperluas ke kota-kota lain, terutama wilayah dengan aktivitas ritel besar dan komunitas bank sampah yang aktif.
Menurut Tohom, program ini juga memiliki nilai sosial karena limbah yang terkumpul dikelola oleh mitra bank sampah komunitas, sementara hasil pengelolaannya digunakan untuk mendukung pendidikan anak-anak rentan, pemenuhan kebutuhan dasar, serta program pemberdayaan di lingkungan Yayasan KDM.
“Di titik inilah ekonomi sirkular menjadi lebih hidup, karena sampah tidak lagi diposisikan sebagai beban, melainkan sebagai sumber nilai yang bisa membantu pendidikan, pemberdayaan, dan masa depan anak-anak rentan,” ucapnya.