WAHANANEWS.CO, Jakarta - Lautan Indonesia kembali menunjukkan wajah paling berbahaya setelah BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang diprakirakan mencapai ketinggian ekstrem hingga 6 meter di sejumlah perairan nasional.
Peringatan gelombang tinggi tersebut berlaku mulai Jumat (23/1/2026) pukul 07.00 WIB hingga Senin (26/1/2026) pukul 07.00 WIB seiring dinamika atmosfer dan laut yang dinilai signifikan dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga:
Cuaca Ekstrem Mengintai, BMKG Wanti-wanti Hujan Lebat dan Angin Kencang Hari Ini
BMKG menilai kondisi ini berpotensi besar membahayakan aktivitas pelayaran, khususnya nelayan serta kapal kecil hingga kapal berukuran besar.
Dalam analisis sinoptik, BMKG mencatat adanya pengaruh ex Siklon Tropis Nokaen yang berada di Laut Filipina Timur serta kemunculan bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur.
Kedua sistem cuaca tersebut memicu peningkatan kecepatan angin dan tinggi gelombang di berbagai wilayah perairan Indonesia.
Baca Juga:
BMKG: Modifikasi Cuaca Langkah Pengendalian Risiko Bencana Hidrometeorologi
Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan berkisar antara 6 hingga 25 knot.
Sementara itu, di wilayah Indonesia bagian selatan, angin dominan bergerak dari barat hingga barat laut dengan kecepatan lebih kuat yang dapat mencapai 6 hingga 30 knot.
Kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Natuna Utara, Samudra Hindia selatan Jawa, Samudra Hindia selatan NTT, serta Samudra Pasifik utara Maluku.
BMKG menetapkan potensi gelombang sangat tinggi dengan kisaran 4,0 hingga 6,0 meter yang berpeluang terjadi di wilayah Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur.
Kondisi tersebut dikategorikan sangat berbahaya dan berisiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran, termasuk kapal besar seperti kapal kargo dan kapal penumpang.
Selain itu, gelombang tinggi setinggi 2,5 hingga 4,0 meter berpotensi terjadi di Selat Malaka bagian utara, Samudra Hindia barat Aceh, Bengkulu, Lampung, serta Samudra Hindia selatan Banten hingga Nusa Tenggara Barat.
Wilayah lain yang juga diperkirakan terdampak meliputi Laut Natuna Utara, Laut Maluku, Samudra Pasifik utara Maluku dan Papua Barat Daya, Laut Sawu, serta Laut Arafuru bagian barat dan timur.
BMKG juga memperkirakan gelombang laut kategori sedang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter di Selat Karimata, Laut Jawa bagian barat hingga timur, Selat Makassar, Laut Bali, Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, Teluk Bone, Laut Sulawesi bagian timur, serta Samudra Pasifik utara Papua dan Papua Barat.
Pihak BMKG mengingatkan bahwa kondisi tersebut tetap berisiko terhadap keselamatan pelayaran meskipun berada pada kategori sedang.
Perahu nelayan dinilai rawan ketika kecepatan angin mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang sekitar 1,25 meter.
Kapal tongkang berisiko mengalami gangguan keselamatan saat angin bertiup 16 knot disertai gelombang setinggi 1,5 meter.
Sementara itu, kapal ferry berpotensi terdampak pada kecepatan angin 21 knot dengan tinggi gelombang sekitar 2,5 meter.
Untuk kapal besar seperti kapal kargo dan kapal penumpang, risiko meningkat signifikan ketika kecepatan angin mencapai 27 knot dan tinggi gelombang sekitar 4 meter.
BMKG menegaskan bahwa kondisi laut bersifat sangat dinamis dan dapat berubah dengan cepat dalam waktu singkat.
Seiring potensi laut ekstrem tersebut, nelayan, operator kapal, dan masyarakat pesisir diimbau meningkatkan kewaspadaan serta menunda aktivitas pelayaran di wilayah berisiko tinggi.
Aktivitas pelayaran juga diminta selalu mempertimbangkan kondisi cuaca dan gelombang sebelum berangkat serta mematuhi rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan otoritas terkait.
BMKG mengimbau masyarakat terus memantau pembaruan informasi cuaca maritim dan peringatan dini gelombang laut melalui kanal resmi guna mengantisipasi risiko yang dapat timbul.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]