WAHANANEWS.CO.Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons penetapan perusahaan asal China, Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. sebagai mitra pengelola fasilitas Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Bogor Raya oleh Danantara Indonesia.
MARTABAT menilai proyek tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat pengelolaan sampah sekaligus memperluas bauran energi nasional, namun keterlibatan investor dan industri dalam negeri dinilai perlu lebih diperbesar agar manfaat ekonomi dan teknologi dapat dirasakan secara optimal di dalam negeri.
Baca Juga:
Presiden Dorong Kinerja Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara Makin Optimal
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, mengatakan bahwa proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik merupakan salah satu sektor masa depan yang sangat potensial bagi Indonesia.
Ia menilai langkah Danantara menggandeng mitra berpengalaman dari luar negeri dapat menjadi katalis percepatan pembangunan teknologi WtE di Tanah Air.
“Penunjukan mitra internasional seperti Zhejiang Weiming Environment Protection memang penting untuk menghadirkan teknologi yang sudah matang. Namun ke depan, kami berharap keterlibatan investor lokal, perusahaan nasional, serta lembaga keuangan domestik dapat diperluas agar proyek-proyek listrik dari sampah ini juga menjadi ruang tumbuh bagi industri nasional,” ujar Tohom Purba, Jumat (13/3/2026).
Baca Juga:
Korem 042/Gapu Gelar Bazar Ramadhan TNI 2026, Warga Jambi Timur Antusias Berburu Sembako Murah
Menurutnya, proyek WtE yang dikembangkan Danantara merupakan bagian penting dari implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang menekankan percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.
Proyek ini dinilai dapat membantu kota-kota besar mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir sekaligus menghasilkan energi listrik yang bernilai ekonomi.
Tohom menilai, keharusan pembentukan konsorsium dalam proyek tersebut sebenarnya membuka peluang besar bagi perusahaan Indonesia untuk masuk dalam rantai investasi maupun pengelolaan teknologi.
Oleh karena itu, ia mendorong agar pemerintah, Danantara, dan mitra asing secara aktif melibatkan pelaku usaha nasional, baik di bidang konstruksi, teknologi lingkungan, manufaktur peralatan, maupun pembiayaan proyek.
“Model konsorsium harus dimanfaatkan untuk mendorong transfer teknologi yang nyata. Jangan sampai investor lokal hanya menjadi penonton. Justru momentum ini harus dijadikan sarana memperkuat kemampuan industri nasional dalam teknologi pengolahan sampah dan energi bersih,” katanya.
Tohom juga menilai bahwa pengembangan fasilitas PSEL memiliki nilai strategis ganda, yakni sebagai solusi lingkungan sekaligus sebagai sumber energi alternatif.
Dengan jumlah sampah perkotaan yang terus meningkat, pengolahan sampah berbasis energi dapat menjadi bagian penting dalam strategi ketahanan energi nasional.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa pendekatan Waste-to-Energy merupakan solusi yang realistis bagi kota-kota besar Indonesia yang menghadapi keterbatasan lahan untuk tempat pembuangan akhir.
Menurutnya, teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah secara signifikan, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan proyek WtE di Bogor Raya dapat menjadi model pengembangan serupa di berbagai kota besar lainnya di Indonesia.
Dengan pengelolaan yang transparan, standar lingkungan yang ketat, serta keterlibatan investor nasional yang lebih besar, proyek ini berpotensi menjadi motor baru dalam transformasi sektor energi dan pengelolaan sampah nasional.
“Jika dikembangkan secara konsisten, listrik dari sampah bisa menjadi bagian dari ekosistem ekonomi hijau Indonesia. Selain memperbaiki kualitas lingkungan, proyek ini juga dapat membuka lapangan kerja baru, memperkuat industri teknologi lingkungan, serta memperluas portofolio energi nasional yang lebih berkelanjutan,” ujar Tohom.
Ia menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran memiliki peluang besar untuk menjadikan sektor energi berbasis pengolahan limbah sebagai salah satu agenda strategis pembangunan nasional, terutama dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan ketahanan energi.
Danantara sebelumnya mengumumkan bahwa Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. terpilih sebagai mitra pengelola fasilitas PSEL Bogor Raya setelah melalui proses seleksi yang melibatkan sejumlah perusahaan internasional berpengalaman.
Perusahaan tersebut diketahui memiliki pengalaman luas dalam desain, investasi, pembangunan, dan operasional fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik, dengan total produksi listrik dari limbah mencapai sekitar 3,85 miliar kWh pada 2023.
[Redaktur: Mega Puspita]