Ia menilai peran koperasi sebagai agen perubahan sangat relevan di tengah meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam dan perubahan iklim.
“Pemerintah seharusnya tidak hanya menargetkan angka pembentukan koperasi, tapi juga kualitasnya. Koperasi yang sukses adalah yang mampu memberi nilai tambah bagi masyarakat dan ekosistemnya. Dengan cara ini, desa bisa menjadi contoh ekonomi hijau berbasis komunitas,” ungkap Tohom.
Baca Juga:
Bioenergi Desa Berpotensi Jadi Tulang Punggung Listrik Nasional, ALPERKLINAS Dorong Sinergi PLN–Perbankan dan Kopdes
Lebih lanjut, Tohom mendorong Kemenkop agar bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengintegrasikan program energi terbarukan dan pengelolaan sampah dalam kebijakan koperasi.
“Kalau koperasi desa mampu menghasilkan listrik dari biogas atau mengelola limbah jadi bahan bakar alternatif, ini bukan hanya efisiensi energi, tapi kemandirian nasional yang nyata,” tambahnya.
Sebelumnya, Menteri Koperasi dan UKM Budi Arie Setiadi menyebut bahwa pembentukan Kopdes/Kel Merah Putih melibatkan tidak kurang dari 200 unsur masyarakat di setiap desa, termasuk pemuda, perempuan, tokoh adat, dan perangkat desa.
Baca Juga:
Listrik Desa Berbasis Koperasi, Model Energi Mandiri Wilayah 3T
Budi Arie menegaskan, koperasi diharapkan menjadi agregator dan akselerator ekonomi lokal berbasis gotong royong, sekaligus memperkuat struktur ekonomi nasional dari bawah.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.