WAHANANEWS.CO, Jakarta – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN memastikan pelaksanaan program Gerakan Orang Tua Asuh Stunting (GENTING) tidak hanya menjadi kegiatan seremonial semata, tetapi mampu memberikan dampak konkret dalam upaya percepatan penurunan angka stunting di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Netty dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN yang berlangsung di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Baca Juga:
UKSW Berhasil Pulihkan 16 Anak dari Stunting, Wihaji: Selamatkan Satu Anak Selamatkan Generasi
Dalam forum tersebut, Netty menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap implementasi program Orang Tua Asuh Stunting yang telah dijalankan di berbagai daerah.
Menurutnya, keberhasilan program tidak semata-mata dilihat dari jumlah pihak yang terlibat sebagai orang tua asuh, melainkan dari kualitas pendampingan yang diberikan kepada keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.
"Saya masih menyimpan pertanyaan apakah kemudian program ini masih didominasi oleh selebrasi yang berlebihan ketimbang kemudian program pendampingannya," ujar Netty.
Baca Juga:
Daerah Ini Jadi Sorotan, Karena Ramai Pasangan Kumpul Kebo
Ia menilai pemerintah perlu memaparkan praktik-praktik terbaik (best practice) yang telah diterapkan dalam pelaksanaan program tersebut agar dapat menjadi acuan bagi daerah lain.
Dengan demikian, efektivitas program dapat diukur secara objektif dan berkelanjutan.
Netty kemudian membandingkan program tersebut dengan implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang telah memiliki banyak regulasi di berbagai daerah.
Namun, menurutnya, keberadaan aturan yang banyak belum tentu berbanding lurus dengan keberhasilan pelaksanaan di lapangan.
"Jadi ini menurut saya perlu juga disampaikan seperti apa pola-pola best practice dari orang tua asuh stunting," katanya.
Politisi Fraksi PKS itu juga meminta BKKBN memberikan penjelasan lebih rinci mengenai bentuk pendampingan yang dilakukan para orang tua asuh kepada keluarga sasaran.
Ia menekankan bahwa masyarakat perlu mengetahui sejauh mana kontribusi para orang tua asuh dalam membantu pemenuhan kebutuhan gizi, perawatan anak, hingga pendampingan keluarga yang rentan mengalami stunting.
"Apakah kemudian orang tua asuh stunting ini secara rutin memberikan asupan bergizi buat keluarga berisiko stunting atau kemudian sebagiannya memang memelihara secara khusus, merawat secara khusus seperti itu. Nah ini penting untuk diperjelas gerakan orang tua asuh stunting," tegasnya.
Lebih lanjut, Netty menegaskan bahwa indikator keberhasilan program tidak boleh hanya berfokus pada banyaknya individu, lembaga, maupun perusahaan yang terlibat sebagai orang tua asuh stunting.
Yang lebih penting, kata dia, adalah sejauh mana program tersebut mampu menghasilkan perubahan nyata berupa penurunan prevalensi stunting dan peningkatan kualitas kesehatan anak di masyarakat.
Karena itu, ia mendorong BKKBN untuk memastikan setiap kegiatan dalam program GENTING memiliki mekanisme pengawasan, evaluasi, dan pengukuran kinerja yang jelas.
Dengan langkah tersebut, program diharapkan tidak hanya menjadi gerakan simbolis, tetapi benar-benar berkontribusi terhadap target nasional penurunan stunting yang tengah diupayakan pemerintah.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]