Ia menjelaskan bahwa dalam waktu sekitar dua jam, jaringan transmisi yang mengalami gangguan berhasil dipulihkan kembali.
Setelah jaringan transmisi kembali siap beroperasi, PLN kemudian memfokuskan langkah pemulihan pada pengoperasian kembali pembangkit-pembangkit listrik yang sebelumnya terdampak.
Baca Juga:
PLN Catat Laba Bersih Rp7,26 Triliun di Tengah Gejolak Nilai Tukar Global
Menurut Darmawan, proses penyalaan pembangkit dilakukan secara bertahap dan terukur guna menjaga keandalan sistem kelistrikan.
Pembangkit berbasis hidro dan gas menjadi andalan pada tahap awal pemulihan karena mampu memberikan respons cepat untuk memasok daya ke sistem.
Petugas PLN melakukan briefing persiapan di GITET Bungo, Kabupaten Muara Bungo, Jambi sebelum melanjutkan pemulihan kelistrikan pascagangguan yang terjadi pada jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kilovolt (kV) Muara Bungo-Sungai Rumbai di Jambi pada Sabtu (23/5/2026).
Baca Juga:
PLN-Pemprov Jabar Teken MoU Ketenagalistrikan, Dorong Pemerataan Akses Listrik hingga Pelosok
“Proses penyalaan pembangkit dilakukan secara sistematis dan bertahap dengan tetap mengutamakan keamanan sistem. Pembangkit berbasis hidro dan gas dapat langsung membantu menyuplai sistem sebagai fast response untuk mempercepat recovery awal. Sementara pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih lama, antara 15 hingga 20 jam mulai dari start-up, sinkron dan beroperasi penuh,” ujarnya.
Dalam proses pemulihan tersebut, PLN mengerahkan ratusan personel yang bekerja tanpa henti selama 24 jam di berbagai wilayah terdampak, mulai dari Jambi, Sumatra Barat, Riau, Sumatra Utara hingga Aceh.
Tim teknis diterjunkan untuk memastikan setiap tahapan pemulihan berjalan aman dan sesuai prosedur operasional.