Untuk pengoperasiannya, Nusantara Lima ditunjang delapan stasiun bumi (gateway) yang tersebar di Banda Aceh, Bengkulu, Cikarang, Gresik, Banjarmasin, Tarakan, Kupang, dan Makassar.
Infrastruktur tersebut dibangun oleh tenaga ahli lokal sebagai wujud pemberdayaan talenta digital nasional.
Baca Juga:
Ambisi Trump atas Greenland Mengingatkan Sejarah Panjang Ekspansi Wilayah Amerika Serikat
Meski menggandeng mitra internasional, perancangan, pengelolaan, dan pemanfaatan Nusantara Lima sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan Indonesia.
Kehadiran satelit ini bukan hanya meningkatkan layanan internet cepat dan merata hingga ke wilayah 3T (terdepan, tertinggal, terluar), tetapi juga menjadi simbol kemandirian satelit nasional, menjaga kedaulatan data, serta memperkuat ketahanan komunikasi negara.
Peluncuran Nusantara Lima juga menambah deretan tonggak sejarah satelit Indonesia setelah era Satelit Palapa A1 (1976), Satelit Nusantara Satu (2019), dan SATRIA-1 (2023).
Baca Juga:
Pemerintah Trump Kirim Marinir ke Florida, Logistik dan Administrasi Jadi Fokus Utama
Dengan demikian, Indonesia menegaskan posisinya kembali sebagai salah satu negara pemimpin satelit di kawasan Asia.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.