“Bayangkan jika tiap kabupaten memiliki SMK yang bisa merakit mesin sekelas karya siswa SMK Kuningan yang menciptakan Medusa atau Mesin Duruk Sampah. Itu bukan hanya prestasi, tapi bentuk kesiapan bangsa menghadapi krisis sampah dan energi,” ujarnya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa pemerintah harus mengubah pendekatan dari membangun fasilitas ke membangun ekosistem.
Baca Juga:
Penjualan Listrik Sektor Bisnis PLN UID Jawa Barat Tumbuh 7,92% pada 2025, Didominasi Oleh Data Center
Menurutnya, ketika anak-anak muda dilibatkan dalam pengolahan sampah melalui unit produksi sekolah dan bank sampah berbasis bisnis, maka masyarakat tidak lagi melihat sampah sebagai beban, tetapi sebagai sumber peluang.
“Dengan kurikulum 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan praktik langsung, siswa bisa menjadi pelopor ekonomi hijau di tingkat lokal. Mereka tidak hanya bekerja, tapi menciptakan lapangan kerja,” tegasnya.
Ia juga meminta agar proyek pengolahan sampah tidak dimonopoli oleh investor besar saja, tetapi membuka ruang bagi inovasi lokal dan partisipasi warga.
Baca Juga:
Prabowo Bentuk DEN 2026–2030, Energi Jadi Pilar Strategis Pemerintahan
“Kalau anak SMK sudah bisa merakit mesin pemusnah sampah senilai Rp75 juta dan siap dijual ke desa-desa, artinya potensi kita luar biasa. Pemerintah tinggal memberi arah, dukungan, dan kurikulum yang visioner,” kata Tohom menyoroti pentingnya pemberdayaan generasi muda.
Tohom memastikan bahwa MARTABAT Prabowo-Gibran siap mengawal narasi transisi energi berbasis partisipasi masyarakat, bukan hanya proyek-proyek besar yang sulit diakses warga.
“Kedaulatan energi dimulai dari lingkungan terkecil. Dan itu hanya bisa terwujud jika anak-anak muda kita dilatih, disiapkan, dan diberi ruang untuk berkarya,” tutupnya.