Faktor geografis dan sosial disebut menjadi hambatan nyata bagi sebagian anak dalam mendapatkan asupan nutrisi yang layak.
Untuk meningkatkan ketepatan sasaran, Lina mengusulkan penggunaan data Program Indonesia Pintar (PIP) yang disinkronkan dengan sistem pendidikan dan basis data sosial ekonomi nasional.
Baca Juga:
Menkes Ungkap Anomali BPJS, Masih Ada Orang Kaya Terima Bantuan PBI
"Saya pikir dengan cara melakukan sinkronisasi dengan sekolah, dengan PIP," kata Lina pada Senin (13/4/2026).
Integrasi dengan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dinilai akan mempercepat verifikasi sekaligus meningkatkan akurasi penerima manfaat.
Arahan serupa juga disampaikan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) yang menegaskan bahwa program MBG tidak ditujukan untuk semua kalangan.
Baca Juga:
FBI-Polri Bongkar Jaringan Phishing Global, Nilai Penipuan Tembus Rp 342 Miliar
“Jadi kalau anak-anak orang mampu, kan tidak membutuhkan MBG karena orangtuanya sudah bisa memberi makanan bergizi yang baik di rumahnya,” kata Nanik S. Deyang.
Disampaikan lebih lanjut, program ini tidak boleh dijalankan secara memaksa dan harus benar-benar berbasis kebutuhan riil di lapangan.
“Presiden menyampaikan bahwa program ini tidak boleh dipaksakan. MBG harus difokuskan kepada anak-anak yang benar-benar membutuhkan perbaikan gizi,” ujar Nanik.