“Innovation Hub ini bukan sekadar ruang seminar. Ia menjadi rumah bagi pemerintah, swasta, startup, dan investor untuk bertemu, berbagi kompetensi, dan melahirkan solusi digital,” jelas Meutya Hafid.
Program ini akan dijalankan dalam beberapa tahapan: fondasi, aktivasi, dan scaling.
Baca Juga:
Ditlantas Polda Jambi Gencarkan Edukasi Keselamatan Lalu Lintas di Empat Sekolah, Kukuhkan Paskibraka hingga Cek Kendaraan Siswa
Meutya menegaskan bahwa program tidak berhenti di peresmian, tetapi langsung aktif dengan pelatihan dan materi yang relevan.
Garuda Spark ditargetkan menjangkau empat juta penerima manfaat, yang terdiri dari dua juta talenta digital dan dua juta teknopreneur.
Dengan kolaborasi lintas sektor, Meutya yakin target tersebut bisa dicapai.
Baca Juga:
Kasus Korupsi Chromebook, Nadiem Sebut Google Bukan Vendor
“Digitalisasi adalah jalan keadilan dan kemandirian ekonomi untuk Indonesia. Kita ingin memastikan bahwa manfaatnya dirasakan bukan hanya di kota besar, tetapi juga sampai ke daerah,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa pemerintah berperan sebagai orkestrator, bukan satu-satunya pelaku.
“Setelah ekosistem berjalan, pemerintah akan mengambil peran orkestrasi. Sementara sektor swasta, startup, dan masyarakat akan menjadi motor utama. Dengan cara ini, digitalisasi bisa berkembang lebih cepat dan mandiri,” ujarnya.