Sukasdi mengajak umat agar terus mempraktikkan Three Acts of Goodness atau tiga perbuatan mulia.
“Kita harus berbuat baik, berkata baik, dan berhati yang baik. Nilai-nilai ini menjadi landasan penting dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, menjadi cerminan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Baca Juga:
Kunjungan Maruli Simanjuntak ke Toba, MARTABAT Prabowo-Gibran: Momentum Perkuat Kawasan Otorita Danau Toba
Vihara Suwarnadwipa berdiri di punggung bukit yang langsung menghadap Danau Toba, dengan latar megah Gunung Sibuaten.
Arsitekturnya meniru Kuil Putuo Selatan di Fujian, Tiongkok, salah satu situs suci dalam tradisi Buddhisme Mahayana. Posisinya yang strategis di dalam kawasan Taman Simalem Resort membuatnya juga menjadi destinasi wisata religi dan budaya yang kuat.
General Manager TSR, Eddy Tanoto Sukardi, menyatakan bahwa pembangunan vihara merupakan gagasan Almarhum Tamin Sukardi.
Baca Juga:
Ancaman Kematian Massal Ikan di Danau Toba, MARTABAT Prabowo-Gibran: Butuh Sistem Peringatan Dini Modern
“Tujuannya memberi kesempatan umat Buddha beribadah sekaligus berwisata ke Danau Toba,” kata Eddy dalam keterangannya pada Jumat (30/5/2025).
Kawasan TSR sendiri merupakan resor terpadu seluas 206 hektare, menggabungkan konsep agrowisata dan ekowisata.
Lokasinya dapat ditempuh dalam tiga jam dari Medan, atau sekitar 45 menit dari Berastagi. Tempat ini juga dikenal karena menyatukan rumah ibadah tiga agama, vihara, masjid, dan gereja, dalam satu kawasan sebagai simbol kerukunan umat.