Pada kondisi lalu lintas perkotaan dengan kecepatan rendah, hambatan udara relatif kecil sehingga energi baterai lebih banyak digunakan untuk menggerakkan kendaraan.
Namun saat melaju di atas 100 km/jam, sebagian besar energi justru tersedot untuk melawan tekanan udara di bagian depan kendaraan.
Baca Juga:
OTT Bengkulu, Plt. Bupati Hendri Jadi Saksi Kunci Dugaan Suap Proyek
Sebagian besar energi baterai habis hanya untuk ‘membelah’ udara yang semakin padat menekan bagian depan mobil.
Berbeda dengan mesin bensin yang dapat menyesuaikan rasio gigi untuk menekan putaran mesin, motor listrik dengan transmisi tunggal harus bekerja lebih keras pada kecepatan tinggi sehingga konsumsi listrik meningkat signifikan.
Faktor kedua yang berperan adalah hilangnya manfaat dari sistem pengereman regeneratif yang biasanya menjadi kunci efisiensi mobil listrik di dalam kota.
Baca Juga:
KPK Dalami Dugaan Suap Proyek Bupati Rejang Lebong, Fokus THR Warga
Saat kendaraan melambat atau berhenti, sistem ini mengubah energi kinetik menjadi listrik untuk mengisi ulang baterai.
Motor listrik berubah fungsi menjadi generator yang menangkap energi kinetik dan mengubahnya kembali menjadi daya listrik untuk mengisi baterai.
Namun di jalan tol, kondisi berkendara yang stabil dan minim pengereman membuat sistem ini hampir tidak bekerja sama sekali.