Penulis lain dari laporan tersebut, Dr Tom Matthews, seorang ilmuwan iklim dari King College London, mengatakan kepada BBC bahwa tidak ada satupun perubahan iklim di kawasan yang menyebabkan lonjakan pencairan.
“Sebaliknya kenaikan suhu yang stabil pada akhirnya mendorong gletser melewati ambang batas, dan tiba-tiba semuanya berubah,” katanya dalam keterangan pada BBC.
Baca Juga:
Teknologi Modifikasi Cuaca Siap Jinakkan Hujan Ekstrem, Begini Caranya
Dr Mayewski juga mengamati bahwa pencairan yang cepat dapat memiliki berbagai implikasi, baik secara regional maupun global.
Selain itu, para peneliti mengkhawatirkan beberapa pegunungan yang menjadi sumber untuk air minum akan bernasib sama dengan Gunung Everest.
Salah satunya Gunung Himalaya yang dijadikan sebagai sumber air minum, apabila gletsernya mengikuti Gunung Everest maka kapasitas mereka untuk menyediakan air minum serta irigasi akan mengalami penurunan yang signifikan.
Baca Juga:
Mencairnya Es Antarktika Picu 'Kebangkitan' Gunung Berapi Tersembunyi
Penurunan juga dapat memberikan tantangan bagi pendaki, karena ekspedisi ke gunung di masa depan dapat menghadapi batuan dasar dan lapisan es yang lebih terbuka sehingga lebih sulit untuk didaki. [dhn]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.