Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Cell pada 14 Februari 2025 dan menunjukkan bahwa peningkatan CoQ10 dalam padi tidak memengaruhi hasil panen.
Lebih menarik lagi, CoQ10 dalam beras ini tetap stabil selama proses pemanasan, sehingga manfaat nutrisinya tetap terjaga meskipun dimasak.
Baca Juga:
Pemkab Malinau Apresiasi Keberhasilan Kelompok Tani Rurum Kei Hasilkan 9,4 Ton Padi
“Jika seseorang mengonsumsi beras ini setiap hari, mereka bisa mendapatkan tambahan sekitar 1–2 mg CoQ10 per hari,” kata Xu Jingjing, associate researcher di Kebun Raya Chenshan Shanghai.
“Jumlah ini hampir setara dengan CoQ10 yang didapat dari konsumsi daging, sehingga bisa menjadi alternatif sumber nutrisi yang lebih mudah diakses.”
Zhao Qing menambahkan bahwa penelitian ini tidak hanya mengungkap pola evolusi tanaman selama ribuan tahun, tetapi juga membuka jalan bagi inovasi biologi sintetis di masa depan.
Baca Juga:
Dinas Pertanian Situbondo: 100 Hektare Sawah Siap Panen Padi Agritan BK 01 dan 02
“Biologi sintetis pada dasarnya adalah tentang belajar dari alam. Kami percaya pendekatan ini bisa diterapkan untuk pengembangan tanaman lain,” ujarnya.
Selain itu, penelitian ini membuktikan bagaimana big data dan kecerdasan buatan (AI) dapat digunakan dalam pengembangan varietas tanaman unggul.
Tim peneliti yang terlibat berasal dari berbagai institusi, termasuk Pusat Keunggulan Ilmu Tanaman Molekuler CAS, Pusat Penelitian Chenshan Shanghai, serta Institut Genetika dan Biologi Perkembangan di Beijing.