Biosurfaktan adalah senyawa dari bahan mikroba yang mampu mengikat dan menguraikan limbah.
Dalam pemaparannya, Athallah menyebut limbah lumpur minyak berbentuk padatan acap kali ditemui ketika ada kebocoran pipa, pada proses pembersihan tangki penyimpanan minyak, maupun pada proses pemurnian minyak.
Baca Juga:
Pengembangan Sumur TMB-028 di Muara Enim Berhasil, Suntikan Baru untuk Produksi PEP Limau Field
“Limbah lumpur minyak terdiri dari campuran air, sedimen, dan hidrokarbon berkonsentrasi tinggi. Limbah ini juga mengandung logam berat yang dapat membahayakan lingkungan maupun manusia,” tambahnya.
Melalui penelitiannya, Athallah menawarkan metode bioremediasi menggunakan bantuan bakteri untuk mendegradasi limbah lumpur minyak.
Namun, karena memiliki viskositas yang sangat tinggi, bakteri pada umumnya akan sulit untuk mengurai limbah lumpur minyak secara optimal.
Baca Juga:
Pendaftaran Beasiswa Pertamina Sobat Bumi 2026 Dibuka, Dukung Mahasiswa Berprestasi dan Berwawasan Lingkungan
Selain itu, bakteri juga mendapatkan nutrien tambahan dari biosurfaktan sehingga mereka lebih nyaman berkembang biak dan tumbuh.
Sementara Henricus Herwin, VP Upstream Business Development Pertamina Hulu Energi (PHE), mengutarakan kebanggaannya atas keberhasilan Athallah.
PHE turut aktif mendukung pengembangan mahasiswa Indonesia, diantaranya dengan mensponsori Athallah dan timnya untuk berkompetisi di Houston.