Ini membentuk daerah pertemuan/perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang dari Laut Sulawesi hingga Samudera Pasifik Utara Papua Barat, dan dari Pesisir Selatan Papua hingga Papua Barat.
"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut."
Baca Juga:
Sumedang dan Majalengka Jadi Salah Satu Daerah dengan Jumlah Petir Tertinggi di Bulan Maret 2025
Ada pula intrusi udara kering (dry intrusion) dari Belahan Bumi Selatan (BBS) melintasi wilayah Samudra Hindia selatan Jawa hingga Australia bagian utara.
Fenomena ini, kata BMKG, "mampu mengangkat massa udara di depan intrusi menjadi lebih hangat dan lembab yaitu di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan Papua bagian Selatan."
Ketiga, faktor lokal berupa labilitas yang kuat.
Baca Juga:
Potensi Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut hingga Lebaran, PLN Siapkan Langkah Antisipatif
"Labilitas Lokal Kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal terdapat di wilayah Aceh, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB."
"Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara, Maluku, dan Papua," lanjut BMKG.
Dengan faktor-faktor tersebut, BMKG memperingatkan potensi hujan lebat pada Minggu (09/07/23) di beberapa wilayah, mulai Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur;