Wilayah yang lebih dulu mengalami kemarau antara lain sebagian Sumatra, sebagian Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara, Kalimantan Tengah bagian timur, sebagian Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Menurut BMKG, kondisi musim kemarau tahun ini berpotensi lebih berat dibandingkan biasanya karena dipengaruhi fenomena El Nino yang diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027.
Baca Juga:
Kapan Puncak Musim Kemarau di RI? Ini Prediksi BMKG
"BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62%, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober," imbuh Ardhasena.
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan peluang terjadinya fenomena Godzilla El Niño, yaitu El Niño dengan intensitas sangat kuat yang dapat memicu kekeringan ekstrem, sangat kecil pada tahun ini. Meski demikian, masyarakat dan pemerintah tetap perlu mewaspadai musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman asil analisis berbagai model iklim dunia menunjukkan bahwa kondisi iklim global saat ini lebih mengarah pada El Niño kategori moderat dengan peluang sekitar 27%. Kondisi tersebut berbeda dengan El Niño super kuat atau Godzilla El Niño yang pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2015.
Baca Juga:
Waspada! Siklon Jangmi Picu Ancaman Cuaca Ekstrem di Indonesia, BMKG Buka Suara
"El Niño 2026 diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem. Namun, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis," jelas Albertus.
Ia menjelaskan bahwa El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengganggu pola pembentukan awan hujan di Indonesia. Dalam kondisi normal, perairan Indonesia yang hangat menjadi pusat pembentukan awan dan hujan. Namun saat El Niño terjadi, pusat pembentukan awan bergeser ke arah Pasifik Tengah sehingga curah hujan di Indonesia berkurang secara signifikan.
Berdasarkan prediksi BRIN lanjut Albertus, puncak musim kemarau tahun 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus. Sejumlah wilayah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Kota Bandung, berpotensi mengalami kondisi sangat kering. "Secara keseluruhan, peluang terjadinya kemarau yang lebih panjang mencapai sekitar 81 persen," jelasnya.