WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tubuh manusia ternyata bisa bereaksi secepat alarm ketika rasa takut muncul, salah satunya lewat bulu halus yang tiba-tiba berdiri atau merinding.
Fenomena naiknya bulu kuduk saat seseorang merasa takut bukan hal mistis, melainkan respons biologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Baca Juga:
MK Soroti Kuota Internet Hangus, Operator Seluler Harus Buktikan Komitmen Rollover
Menurut dr. Yeni Quinta Mondiani, ahli neurologi sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, kondisi tersebut dalam dunia medis dikenal sebagai merinding atau piloerection.
Piloerection terjadi ketika bulu-bulu halus pada kulit berdiri akibat kontraksi otot kecil di bagian pangkal rambut.
“Merinding merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh yang diwariskan dari nenek moyang manusia,” jelas Yeni, dikutip Minggu (21/6/2026).
Baca Juga:
Trump Mulai Jengkel ke Netanyahu, Sebut Israel Bisa Gagalkan Damai AS-Iran
Ia menerangkan bahwa mekanisme tersebut masih tersimpan dalam sistem saraf manusia meski fungsi awalnya tidak lagi terlalu dominan seperti pada masa lampau.
“Meskipun fungsi aslinya sudah tidak terlalu relevan, jalur saraf yang mengaturnya masih aktif hingga sekarang,” ujar Yeni.
Bagian otak yang berperan dalam proses munculnya rasa takut dan merinding adalah amigdala.
Saat otak menangkap sesuatu yang dianggap penting atau mengancam, tubuh akan melepaskan adrenalin.
Pelepasan adrenalin itu kemudian memicu berbagai respons tubuh, termasuk detak jantung meningkat, tubuh lebih waspada, dan bulu halus pada kulit berdiri.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa seseorang lebih mudah merinding ketika sedang cemas atau berada dalam tekanan.
Otak manusia tidak selalu membedakan ancaman fisik dengan tekanan psikologis seperti stres pekerjaan, konflik, trauma, atau kecemasan yang sedang dipikirkan.
Pada kondisi tertentu, sistem alarm dalam otak dapat bekerja lebih cepat dibanding kesadaran manusia dalam memahami situasi yang sedang terjadi.
Yeni mengatakan orang dengan riwayat kecemasan atau trauma lebih mudah mengalami reaksi merinding.
“Pada orang yang memiliki riwayat kecemasan atau trauma, respons ini dapat muncul lebih mudah karena sistem alarm di otak menjadi lebih sensitif,” ujar Yeni.
Merinding juga tidak selalu muncul karena rasa takut.
Kondisi tersebut dapat terjadi saat seseorang mengalami momen emosional yang kuat, seperti mendengar musik tertentu, menyaksikan peristiwa menyentuh, atau berada dalam suasana yang membangkitkan kenangan.
Dalam situasi emosional yang mendalam, otak dapat melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang, penghargaan, dan pengalaman bermakna.
Karena itu, sebagian orang bisa merinding bukan hanya ketika merasa takut, tetapi juga saat merasa kagum, terharu, atau sangat tersentuh.
Banyak orang juga mengaku merinding ketika memasuki tempat tertentu.
Tidak jarang, pengalaman seperti itu dikaitkan dengan hal mistis atau keberadaan sesuatu yang tidak terlihat.
Namun menurut Yeni, kondisi tersebut lebih menunjukkan betapa peka otak manusia dalam membaca berbagai informasi dari lingkungan sekitar.
“Ini bukan berarti seseorang sedang menerima sinyal gaib,” tutur Yeni.
Ia menjelaskan bahwa otak terus bekerja memindai lingkungan dan sering kali menangkap perubahan suasana lebih cepat daripada kesadaran manusia.
“Otak memang terus memindai lingkungan dan sering kali bekerja lebih cepat daripada kesadaran kita,” kata Yeni.
Meski umumnya tergolong normal, merinding tetap perlu diwaspadai apabila muncul berulang kali tanpa pemicu yang jelas.
Kewaspadaan perlu ditingkatkan jika merinding muncul bersamaan dengan pusing, jantung berdebar, keringat berlebih, nyeri kepala mendadak, atau keluhan tubuh lain yang terasa tidak biasa.
Dalam kondisi seperti itu, pemeriksaan medis dapat membantu memastikan apakah ada gangguan saraf, gangguan kecemasan, atau faktor kesehatan lain yang perlu ditangani.
Yeni mengingatkan masyarakat agar tidak buru-buru mengaitkan merinding dengan hal mistis karena tubuh manusia memiliki sistem saraf yang sangat kompleks.
“Merinding bukan tanda otak mendeteksi sesuatu yang tak terlihat,” ujar Yeni.
Ia menyebut fenomena tersebut justru memperlihatkan kecanggihan sistem saraf manusia dalam merespons emosi dan perubahan lingkungan.
“Justru fenomena ini menunjukkan betapa canggihnya sistem saraf manusia dalam merespons emosi dan lingkungan sekitar,” kata Yeni.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]