Strategi pemasaran seperti “flash sale”, “stok tinggal sedikit”, dan “promo berakhir malam ini” dirancang untuk memicu rasa takut kehilangan kesempatan atau fear of missing out (FOMO).
Kondisi tersebut membuat dopamin meningkat dan mendorong otak untuk segera bertindak.
Baca Juga:
Belanja Online Terancam Lebih Mahal, YLKI Soroti Dampak Kenaikan Biaya Logistik
Gambaran ini diperkuat oleh survei yang dipublikasikan Invesp, yang menemukan bahwa 84 persen konsumen pernah melakukan pembelian impulsif, sementara diskon dan penawaran terbatas menjadi pemicu utama keputusan belanja mereka.
Metode pembayaran digital seperti dompet elektronik dan fitur buy now pay later juga membuat proses belanja terasa lebih ringan secara psikologis karena konsumen tidak merasakan pengeluaran uang secara langsung.
Setelah barang diterima, kadar dopamin biasanya menurun dan sebagian orang mulai mempertanyakan apakah pembelian itu benar-benar diperlukan.
Baca Juga:
Dilema Cinta dan Uang, ‘Dopamin’ Sajikan Drama Rumah Tangga Penuh Ketegangan
Fenomena ini dikenal sebagai post-purchase regret atau penyesalan setelah membeli.
Para ilmuwan menilai mekanisme tersebut merupakan bagian dari naluri manusia untuk mengejar peluang yang dianggap menguntungkan.
Di era digital, naluri yang sama dimanfaatkan oleh platform e-commerce dan strategi pemasaran berbasis algoritma.