Pendekatan ini menghasilkan sejumlah puncak spektrum yang mencerminkan berbagai mode eksitasi berbeda dalam sistem kuantum.
Temuan tersebut tidak hanya memperkaya pemahaman fisika kuantum fundamental, tetapi juga membuka peluang pengujian teori melalui eksperimen presisi di laboratorium bersuhu ekstrem.
Baca Juga:
Sosok Rizky Aflaha, Baru Berusia 25 Tahun Raih Gelar Doktor Termuda UGM
Usai meraih gelar doktor, Simons secara terbuka mengungkapkan ambisi jangka panjang yang memancing perhatian publik global.
“Setelah ini, saya akan mulai bekerja menuju tujuan saya, yaitu menciptakan manusia super,” kata Simons.
Ia menegaskan bahwa istilah tersebut bukanlah fiksi ilmiah, melainkan visi ilmiah untuk memperpanjang umur sehat manusia melalui pemahaman mendalam terhadap biologi.
Baca Juga:
Era AI dan Transparansi Dana Reses DPR: Rakyat Berhak Tahu ke Mana Rp6 Triliun Itu Pergi
Orangtua Simons bahkan dilaporkan menolak sejumlah tawaran awal dari perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat dan China.
Keputusan tersebut diambil demi menjaga fokus sang anak tetap berada pada jalur akademik dan dunia medis, alih-alih terseret arus industri dan sensasi popularitas.
Saat ini, Simons kembali ke Munich untuk memulai program doktoral kedua di bidang ilmu kedokteran dengan spesialisasi kecerdasan buatan.