Dalam bidang tersebut, kecerdasan buatan digunakan untuk menganalisis sinyal biologis kompleks guna mendukung diagnosis dini dan pengembangan terapi medis.
Meski gagasan manusia super terdengar ambisius, Simons menekankan bahwa seluruh langkahnya akan ditempuh secara bertahap dan berbasis bukti ilmiah.
Baca Juga:
Sosok Rizky Aflaha, Baru Berusia 25 Tahun Raih Gelar Doktor Termuda UGM
“Semua harus diuji, divalidasi, dan dilakukan dengan sangat hati-hati,” ujarnya.
Dari penyempurnaan algoritma medis hingga validasi klinis yang ketat, ia menempatkan kehati-hatian dan etika sebagai fondasi utama risetnya.
Di tengah sorotan media dan viralnya julukan doktor termuda, para pengamat menilai karya Simons lebih tepat dibaca melalui publikasi ilmiah dan metodologi penelitiannya.
Baca Juga:
Era AI dan Transparansi Dana Reses DPR: Rakyat Berhak Tahu ke Mana Rp6 Triliun Itu Pergi
Tujuan utamanya bukan keabadian, melainkan memperpanjang usia sehat manusia secara realistis dan terukur.
Dengan dukungan mentor, kolaborasi lintas negara, serta disiplin ilmiah yang ketat, perjalanan Laurent Simons dinilai baru saja dimulai.
Ambisinya besar, namun pijakannya tetap berada di ranah sains yang dapat diuji, diverifikasi, dan dipertanggungjawabkan.