WAHANANEWS.CO, Jakarta -Gelombang perpindahan kader Partai NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali menguat menjelang Rapat Kerja Nasional PSI akhir Januari 2026 di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan nama Wakil Ketua Komisi III DPR Rusdi Masse Mappasessu ikut santer disebut akan menyusul.
Isu kepindahan Rusdi Masse menguat setelah sebelumnya sejumlah elite NasDem resmi berlabuh ke PSI, menandai dinamika baru peta politik nasional pasca-Pemilu.
Baca Juga:
Menyambut HUT ke-14, DPD Partai Nasdem Dairi Gelar Donor Darah
Nama Ahmad Ali menjadi sorotan publik ketika memutuskan hengkang dari NasDem dan bergabung dengan PSI pada Jumat (26/9/2025), meski saat itu ia menjabat Wakil Ketua Umum partai besutan Surya Paloh tersebut.
"Ini partai harapan ke depan," kata Ahmad Ali seusai pelantikan di sebuah teater kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (26/9/2025).
Ia menegaskan keputusan pindah partai tidak menghapus jejak politiknya di NasDem yang telah membesarkan namanya hingga berada di panggung nasional.
Baca Juga:
Rumahnya Dijarah, Ahmad Sahroni Balik ke Tanjung Priok dan Cerita Kronologi di Hadapan Warga
"Saya nggak boleh menafikan bahwa di situ tempat saya memulai, saya bisa jadi seperti ini karena Partai NasDem," ujarnya.
Ali menilai PSI memiliki prospek pertumbuhan politik yang lebih menjanjikan ke depan dibandingkan partai lamanya.
"Jadi ke depan saya melihat bahwa PSI di sini akan lebih bertumbuh lebih baik menurut saya," katanya.
Di momentum yang sama, eks kader NasDem Bestari Barus juga resmi bergabung dengan PSI dan menilai perpindahan partai sebagai hal yang lumrah dalam sistem politik Indonesia.
"Dalam sistem perpolitikan kita ini sangat dimungkinkan bahwa pertemuan antara satu sampai dua partai atau bahkan lebih terjadi dalam hal-hal yang strategis," kata Bestari.
Ia menyebut koalisi maupun perpindahan partai bisa dipicu agenda strategis seperti Pilkada, Pemilu, hingga Pilpres.
"Pilkada kah, Pemilu damai kah, atau Pilpres kah, peluang berkoalisi itu selalu ada karena kesamaan pandang," ujarnya.
Isu kepindahan Rusdi Masse pun kian menguat mengingat posisinya sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR yang menggantikan Ahmad Sahroni pasca polemik demonstrasi Agustus 2025.
Fenomena ini dinilai sebagai sinyal kuat konsolidasi politik PSI jelang agenda-agenda besar nasional.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai faktor kawan seperjuangan menjadi salah satu pemicu utama kepindahan kader NasDem ke PSI.
"Sepertinya karena faktor kawan seperjuangan," kata Adi Prayitno saat dihubungi Sabtu (24/1/2025).
Ia menyebut sejak Ahmad Ali bergabung dengan PSI, sejumlah koleganya di NasDem telah diprediksi akan menyusul.
"Bestari Barus contoh nyata, dan jika Rusdi Masse ikut ke PSI, itu makin mempertebal bahwa kawan-kawan seperjuangan Ahmad Ali bergerak ke arah yang sama," ujarnya.
Selain faktor personal, Adi menilai Rusdi Masse tengah mencari tantangan baru dalam karier politiknya.
"Kalau NasDem kan partai mapan dan selalu lolos ke Senayan, sementara PSI belum pernah lolos parlemen," katanya.
Menurut Adi, tantangan meloloskan PSI ke parlemen menjadi daya tarik tersendiri bagi politisi berpengalaman seperti Rusdi Masse.
"Ini bukan perkara mudah dan butuh nyali, ketekunan, serta daya tahan di atas rata-rata," ujarnya.
Ia juga menyinggung faktor keluarga, mengingat anak Rusdi Masse kini menjabat Ketua DPW PSI Sulawesi Selatan.
"Bisa saja karena ingin langsung mementori putranya agar menjadi politisi besar," kata Adi.
Ketua DPP PSI Bestari Barus menilai magnet utama kepindahan kader NasDem ke PSI adalah figur Ahmad Ali dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
"Kalau memang terlihat, saya tidak menafikan bahwa mayoritas yang bergabung berasal dari NasDem," kata Bestari saat dihubungi Minggu (25/1/2025).
Ia menyebut bergabungnya Ahmad Ali sebagai Ketua Harian PSI memberi rasa nyaman bagi banyak politisi senior.
"Yang menjadi penarik tentu Pak Ahmad Ali karena beliau cukup lama di NasDem dan dianggap memberi kenyamanan ke depan," ujarnya.
Bestari juga menilai faktor Jokowi turut mempengaruhi banyak pihak yang sebelumnya tidak berpartai untuk memilih PSI.
"Banyak yang dari dulu tidak berpartai kemudian memilih PSI karena faktor Pak Jokowi," katanya.
Ia berharap semakin banyak tokoh nasional bergabung di bawah kepemimpinan Kaesang Pangarep.
"Mudah-mudahan ke depan akan lebih banyak lagi tokoh yang bergabung," ujarnya.
Bestari menegaskan bahwa keputusan berpindah partai merupakan hak privat setiap individu dan tak bisa diintervensi.
"Bergabung atau berpindah partai itu murni hak pribadi masing-masing," katanya.
Ia mengaku kepindahannya sendiri ke PSI dilandasi kebutuhan akan legitimasi struktural untuk melanjutkan hasrat politiknya.
"Selama dua kongres saya tidak ada di kepengurusan, jadi saya mencari legitimasi politik," ujarnya.
Bestari berharap jika Rusdi Masse benar bergabung, kekuatan PSI akan semakin besar dan menarik kader dari berbagai partai lain.
"Kalau sekelas Rusdi Masse pindah, mudah-mudahan yang lain juga akan mengikuti pada waktunya," katanya.
Ia mengungkapkan komunikasi dengan sejumlah kader aktif DPR dan DPRD dari berbagai partai juga mulai terjalin.
"Bukan hanya dari satu partai, tapi dari banyak partai," ujarnya.
[Redaktur: Angelita Lumban Gaol]