“Golput kerap menjadi cerminan kekecewaan, seperti akibat korupsi, janji yang tak ditepati, atau ketidakpuasan terhadap kandidat yang dianggap tidak merepresentasikan aspirasi publik,” katanya.
Menurutnya, demokrasi yang sejati memerlukan lebih dari sekadar sistem, tetapi juga partisipasi aktif rakyat. Meningkatnya angka golput menjadi gambaran demokrasi yang perlahan kehilangan energinya.
Baca Juga:
Angka Partisipasi Pilkada Jakarta Terendah Sepanjang Sejarah, Tim Rido Kritik Kinerja KPU
Adjie menyerukan perlunya membangkitkan kembali semangat pemilih untuk menjaga demokrasi tetap hidup.
“Ketika angka golput naik, demokrasi kehilangan cahayanya. Kita perlu membangun kembali kepercayaan masyarakat bahwa Pilkada adalah sarana untuk meningkatkan kualitas hidup mereka,” tuturnya.
Berdasarkan hasil hitung cepat, angka golput di beberapa provinsi besar tercatat cukup tinggi, yakni: Jawa Barat 36,98%, Jawa Timur 34,68%, Jawa Tengah 32,36%, Banten 36,10%, Sumatera Utara 38,22%, Sulawesi Selatan 29,84%, dan DKI Jakarta mencapai 46,91%.
Baca Juga:
Warga Begantung Kalbar Boikot Pilkada Serentak Gegara Listrik
Secara keseluruhan, rata-rata angka golput di tujuh provinsi ini mencapai 37,63%, meningkat 6,23% dibandingkan Pilkada 2019 yang mencatat rata-rata golput sebesar 31,40%.
Artinya, sekitar 30% hingga 47% pemilih di tujuh provinsi besar memilih untuk tidak berpartisipasi dalam Pilkada 2024.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]