WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dinamika kepemimpinan Nahdlatul Ulama memasuki babak baru setelah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menggelar Rapat Pleno yang memutuskan pemulihan posisi Ketua Umum PBNU sekaligus menata ulang arah organisasi, Kamis (29/1/2026).
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menggelar Rapat Pleno di Kantor PBNU Jakarta yang dipimpin langsung Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar dan dihadiri jajaran Syuriyah, Tanfidziyah, Mustasyar, A’wan, serta pimpinan Badan Otonom secara hybrid.
Baca Juga:
Lima Pejabat Pemkab Bekasi Dipanggil KPK, Jejak Ijon Proyek Makin Terang
Rapat pleno tersebut menghasilkan sejumlah keputusan strategis yang difokuskan pada stabilitas kepemimpinan, konsolidasi internal, dan perbaikan tata kelola organisasi PBNU ke depan.
Salah satu keputusan krusial dalam rapat itu adalah pemulihan posisi KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU.
Pemulihan tersebut dilakukan setelah Rais Aam PBNU menerima permohonan maaf dari Gus Yahya terkait dinamika yang berkembang dalam tubuh organisasi.
Baca Juga:
Farewell Ride Polda Jambi Bersama Insan Pers dan Komunitas Sepeda, Kapolda: Bentuk Penghormatan untuk Waka Polda
“PBNU menerima permohonan maaf Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, atas kelalaian dan ketidakcermatan dalam mengundang narasumber AKN-NU, serta terkait tata kelola keuangan PBNU yang dinilai tidak memenuhi kaidah akuntabilitas,” ujar KH. Miftachul Akhyar.
Seiring dengan pemulihan Ketua Umum, rapat pleno juga menerima pengembalian mandat KH. Zulfa Mustofa yang sebelumnya ditunjuk sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU.
Langkah tersebut ditegaskan sebagai ikhtiar menjaga keutuhan organisasi dan mengedepankan kemaslahatan yang lebih besar bagi warga Nahdliyin.